Bercinta Dengan Bodyguard Part 9


Untung Nyonya Elena menelpon, hampir saja aku jatuh ke tangan Sally.  Ternyata Nyonya Elena minta dijemput sekarang, tidak jadi nanti sore.  Namun Sally memaksa untuk ikut, alasannya dia takut Bambang akan kembali.  Aku memeriksa kamar Bambang, banyak barang yang ditinggalkannya seperti pisau besar yang dulu pernah dia pakai padaku.  Tidak tampak tanda-tanda dia kembali ke kamarnya.  Aku mengatakan hal itu pada Sally tapi Sally tetap bersikeras ingin ikut.  Aku tidak bisa mencegahnya.

Kali ini, Sally duduk di depan, disamping kemudi.  Mengenakan rok mini warna hitam, sangat pendek.  Kalo dia membungkuk, orang bisa melihat celana dalamnya.  Atasnya memakai kaos hitam dengan belahan yang rendah.  Mengganggu konsentrasi orang yang lagi nyetir, maksudnya aku.  Dan memang mungkin itu tujuannya.  Waktu untuk sampai ke rumah mamanya Nyonya Elena kira-kira 30 menit kalo kondisi jalan tidak macet.

Beberapa kali tangan kanan Sally sengaja memegang tangan kiriku yang sedang mengganti gigi mobil.  Ketika situasi memungkinkan, Sally mengarahkan tanganku ke arah payudaranya kanannya.  Membimbing tanganku untuk meremasnya.  Delikan mataku padanya tidak menghentikan aksinya.

“Nona Sally!” sempat aku meninggikan suaraku.

Sally hanya tertawa.

“Ini hukuman buat kamu, Bud karena manggil aku pake Nona lagi.  Kan aku sudah bilang panggil Sally aja,” jawabnya sambil menurunkan belahan kaosnya sehingga payudara kanannya yang montok terekspos.  Aku panik

“Sally, kita kan lagi di jalan, nanti dilihat orang gimana?” tanyaku langsung melihat sekeliling luar mobil.  Saat itu kami sedang berhenti di lampu merah.

“Jangan khawatir Bud.  Kaca mobil ini memang dirancang untuk tidak bisa dilihat dari luar,”  kembali Sally membimbing tanganku untuk meremas payudaranya yang kini tidak tertutup.  Apa daya, penisku bereaksi.  Sally tentu saja gembira melihat tonjolan di celanaku.  Gila nih cewek, makiku.

Setelah aku mengganti gigi lagi, Sally memegang jari telunjukku, dimasukkan ke mulutnya dan dihisapnya dalam-dalam.  Aku merasa geli nikmat.  Penisku lebih tegang lagi.  Bukan hanya itu, kini jari telunjukku yang basah dimainkannya di puting susunya yang mengeras.  Ditambah Sally pun mendesah keenakan.  Gila! Penisku semakin keras.

Waktu baru berjalan sepuluh menit.  Masih lama nyampai di rumah Mamanya Nyonya Elena.  Penderitaanku, ya penderitaanku menahan birahi karena tingkah laku Sally.  Menahan birahi jelas membuat aku harus lebih konsentrasi menyetir mobil dan memperhatikan jalan.  Hal yang sangat sulit dilakukan dalam kondisiku sekarang.  Setelah puas membimbing tanganku bermain dengan payudara dan putingnya.  Kini tanganku diarahkan ke pahanya yang mulus.  Mulus banget pahanya yang berisi itu.  Penisku tampaknya sudah tegang maksimal.  Berdenyut-denyut, terasa sesak dalam celanaku.

Lama-lama tanganku dibawa naik ke paha atasnya.  Lalu ditarik lebih dalam ke arah pangkal selangkangannya.  Terasa oleh indra perabaku, bulu-bulu halus.  Apa! Sally tidak pakai celana dalam.  Aku tambah keringat dingin, padahal AC mobil berfungsi dengan baik.  Jariku bisa merasakan selangkangan Sally yang lembab, mungkin basah oleh cairan vaginanya.  Lalu Sally membimbing jari-jariku naik turun di belahan vaginanya.  Sally mendesah kenikmatan.  Jalanan terasa berbayang-bayang di mataku, menerima perlakuan Sally.  Wanita maniak seks, makiku.

Kedua kaki Sally sudah menekuk ke atas, kedua pahanya mengangkang.  Jari-jariku merasakan vaginanya semakin basah, sehingga semakin gampang bagi Sally untuk menggerakkan jari-jariku naik turun di bibir klitorisnya.  Erangannya semakin keras. Aku semakin cemas takut didengar orang yang diluar, karena kami sedang berhenti di lampu merah lagi.  Waktu baru berjalan dua puluh menit.  Masih sepuluh menit lagi untuk sampai di tujuan.  Itu pun kalo aku berhasil membawa mobil ini dengan selamat.  Tanpa aku sadari, jari-jariku masih bercokol di vaginanya, ditahan tangan kiri Sally.  Tangan kanan Sally ternyata lagi meremas penisku dari luar celana.  Oh My!  Entah aku ini lagi diberi hadiah atau diberi hukuman.  Kurasakan penisku pun mengeluarkan pelumasnya menerima rangsangan demi rangsangan dari Sally.  Sally mulai merintih tambah cepat sambil menggerakkan jariku di vaginanya dan tangan kanannya meremas penisku.

“Kontolmu  besar, Bud,” disela-sela rintihan Sally.  Kepalanya sudah mendongak ke atas.  Matanya merem melek.  Gila nih cewek, masturbasi di mobil.  Aku sudah pasrah, tepatnya sudah kerangsang oleh perlakuan gila Sally.  Remasannya pada penisku semakin cepat.  Ditambah jari-jariku sudah basah oleh cairan vaginanya.  Aku pun kerangsang hebat.  Waktu sisa lima menit lagi sampai di tujuan.  Aku merasakan ada yang mendesak di ujung penisku.  Suara desahan, rintihan Sally membuat aku tambah tidak menentu.

Tak lama kemudian, kurasakan pinggul Sally bergerak naik turun, lalu ditekan jariku kuat-kuat oleh tangan kirinya dan kedua pahanya menjepit jari-jariku.  Sally merintih panjang.  Sally orgasme.  Aku pun mengetahui dia orgasme, tidak tahan lagi menahan spermaku.  Di remas oleh Sally begitu kuat, membuat spermaku pun muncrat di balik celanaku.  Kurasakan penisku menyemprot beberapa kali.  Untung aku pakai celana warna hitam sehingga basahnya bagian selangkanganku mungkin tidak mencolok.  Kulihat seseorang sudah menunggu di depan gerbang.  Nyonya Elena sudah menunggu dengan topi dan kacamata hitamnya.

Sally tersenyum manja padaku.  Tangannya masih meremas penisku.

“Enak, Bud?” tanyanya manja.  Aku kesulitan bicara.  Kurasakan lengketnya spermaku di sekitar selangkanganku.  Membuat aku beberapa kali mengganti posisi dudukku. Tidak nyaman banget.

Ketika sudah hampir dekat, Sally segera merapikan pakaiannya seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Kutekan pedal rem sehingga mobil berhenti di depan Nyonya Elena.

Nyonya Elena masuk

“Halo Lena,” sapa Sally sambil mengerling nakal padaku.  Aku yakin ini bukan yang terakhir kali Sally berbuat begini padaku. (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 10)

POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG
Next
Previous