Bercinta Dengan Bodyguard Part 13
Dari kaca spion, aku melihat betapa akrabnya Nyonya Elena dengan teman barunya itu. Tanpa aku sadari aku memegang kemudi dengan erat. Aku menatap Sally di sampingku. Kebetulan dia sedang melihatku. Aku memberikan tatapan bertanya-tanya siapa si brengsek itu. Sally seakan-akan mengerti maksudku.
“Dia itu lawan main Lena di filmnya yang baru. Tadi sutradaranya bilang sebelum syuting film dimulai sebaiknya mereka lebih saling mengenal dan akrab dulu.” Sally tersenyum tidak mengetahui kecemburuanku.
Aku manggut-manggut.
“Dia jadi musuhnya Nyonya Elena di film?” harapku.
Sally tertawa.
“Dia jadi pasangan romance-nya Lena,” Sally menjawab sambil menyentuh tanganku di stik persneling.
Aku manggut-manggut lagi tidak rela. Lucky bastard.
Aku sempat melihat ke belakang. Tangan pria itu ada di lutut Nyonya Elena. Ingin kutusuk tangan itu agar tidak bisa berbuat yang aneh-aneh pada tubuh Nyonya Elena. Aku dilanda rasa amarah atau cemburu sebenarnya.
“Jadi ngapain dia ikut kita?” aku tidak peduli apabila perkataanku terdengar ke belakang atau tidak. Aku toh bodyguard Nyonya Elena, aku harus tahu tentang hal ini.
“Mungkin dia mau nginap di rumah kita. Kan tujuannya biar saling mengenal,” tangan Sally mengelus-elus tanganku.
What!!! Aku menatap Nyonya Elena dari kaca spion. Tampaknya dia tengah asik ngobrol dengan pria tampan brengsek itu. Terdengar tawa renyah dari Nyonya Elena. Nyonya Elena tampaknya tidak mengindahkan kehadiranku dan Sally di mobil. Mereka begitu “Hot”nya bercengkerama. Kulihat tangan pria itu kini berada sedikit di atas lutut Nyonya Elena atau itu hanya perasaanku saja.
Sesampainya dirumah, Nyonya Elena dan Brian langsung ngeloyor pergi tanpa sedikitpun melirik padaku. Mungkin Sally bisa merasakan kegalauanku. Sally tersenyum manis padaku. Sally masih duduk di kursi depan. Seperti biasa Sally memakai kaos ketat, hari ini warna orange. Ketika dia menegakkan posisi duduknya. Payudaranya yang bulat tambah membusung. Paha kanannya bersilang di atas paha kirinya. Rok mini biru tuanya terangkat. Apa Sally dan Nyonya Elena ingat kejadian ketika mereka mabuk? Aku pikir setelah kejadian itu, Nyonya Elena akan melunak dan bersikap baik padaku lagi. Tapi ternyata tidak.
“Bud, kamu mau ke kamar aku?” Sally menatapku menggoda. Entah kenapa payudaranya semakin membusung dan rok mininya semakin terangkat. Aku yang sedang risau memikirkan Nyonya Elena tanpa sadar menganggukkan kepalaku. Sally tersenyum senang. Dia turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Aku memarkirkan mobil di garasi.
Ketika aku selesai menyimpan mobil dan hendak menutup pintu garasi. Mataku tertumpu pada sebuah amplop di pekarangan depan dekat pagar. Langsung teringat surat kaleng yang dulu kutemukan. Aku berlari mendekati. Kubuka pagar dan aku melihat sekeliling, tidak ada seorang pun. Mungkin sudah lama seseorang melemparnya ke situ. Kubuka dengan perasaan sedikit tegang.
Benar. Sebuah surat kaleng dengan huruf-huruf yang digunting dari koran atau majalah.
“THIS TIME YOU WILL DIE FOR REAL”
For real! Tampaknya surat kaleng yang ini makin serius. Kalo aku berikan pada Nyonya Elena pasti dia akan stres dan sangat cemas. Kuputuskan aku akan menyimpan surat ini atau mungkin nanti aku kasi liat Sally. Aku tidak ingin membuat Nyonya Elena cemas dalam ketakutan. Aku menyimpan surat kaleng itu di kantong belakang celanaku. Aku masuk ke dalam. Kulihat Nyonya Elena sedang ngobrol dengan asiknya dengan si kunyuk itu. Mereka tidak menghiraukan aku. Kulihat sekilas, benar saja tangan Brian sudah hinggap lebih atas lagi di paha tengah kanan Nyonya Elena. Dasar keparat! Makiku tidak berdaya.
Aku begitu saja melewati kamar Sally. Aku kembali ke kamarku. Bi Surti lagi nyetrika di depan kamarnya. Aku menghempaskan diriku di ranjang. Pikiranku berkecamuk antara Nyonya Elena, surat kaleng dan kegalauan hatiku. Dadaku terasa sesak, panas. Membayangkan Nyonya Elena dengan ketidakpeduliannya padaku dan kemesraannya dengan Brian. Kepalaku tiba-tiba pusing lagi. Sekelebat-sekelebat bayangan tidak jelas muncul dalam kepalaku. Aku meringis kesakitan. Kupegang dua sisi kepalaku dengan kedua tanganku. Rasanya ingin menjerit. Tapi bisa kutahan. Aku menggertakkan gigiku menahan sakit.
Entah kejadian itu berlangsung berapa lama. Entah aku pingsan atau tertidur. Aku terbangun atau siuman ketika terdengar bunyi kecipak kecipuk air kolam. Sakit kepalaku sudah hilang. Sudah lama aku tidak pernah merasakan sakit di kepalaku lagi. Aku bingung kenapa bisa terjadi lagi. Mungkin efek dari kecemburuanku. Cemburu? Mungkin aku memang cemburu. Entah sampai kapan aku akan bertahan melihat kemesraan Nyonya Elena dan Brian. Aku berusaha bangkit dari ranjangku. Aku membuka pintu kamarku. Aku melihat Nyonya Elena sedang berenang bersama si kampret dan Sally pun ikut bergabung dengan mereka. Aku sebenarnya hendak masuk lagi ketika terdengar suara Nyonya Elena memanggilku.
“Bud, sini!” teriaknya. Tiba-tiba hatiku gembira Nyonya Elena memanggilku. Semangatku pun bangkit. Aku segera menghampiri mereka. Aku tersenyum pada Sally yang entah kenapa seperti terlihat marah padaku. Lalu aku tersenyum pada Nyonya Elena. Brian ke laut aja. Atau mungkin dia tenggelam di dasar kolam, mudah-mudahan.
“Ada apa, Nyonya?” aku memberikan senyum termanisku.
Nyonya Elena menatapku.
“Bud, tolong beliin pizza American Favourite ukuran large di Pizza Hut buat aku, Brian dan Sally. Kamu minta duitnya sama Bi Surti,” sambil kemudian dia mendekati Brian dan memeluknya mesra.
Hah!!! Jadi dia memanggilku hanya untuk itu. Padahal aku sudah senang dan berharap lebih. Mungkin aku diajak berenang bersama. Aku menatap Nyonya Elena dan Brian yang sedang saling berpelukan. Aku menatap Sally yang ternyata sedang menatapku kemudian membuang muka. Aku ini bodyguard, woi!!! Teriakku dalam hati. Bukan office boy. Namun apa daya, mereka bertiga tampaknya tidak mempedulikanku.
Dengan berat hati, aku mencari Bi Surti. Setelah menerima uang dari Bi Surti, aku segera mengeluarkan mobil dan menuju Pizza Hut terdekat. Sepanjang perjalanan, aku ngomel-ngomel, menggerutu dan berteriak dalam mobil. Melepaskan segala kemarahanku. Tapi kenapa Sally marah padaku yah? Aku menepuk jidatku. Teringat kembali ketika dia menawarkan aku ke kamarnya, aku mengangguk namun aku tidak kunjung datang ke kamarnya.
Ingin kubenturkan kepalaku ke kemudi mobil. Tapi teringat sakit kepalaku sebelumnya. Tapi siapa tahu aku malahan sembuh dari amnesia. Entah kenapa ada perasaan takut muncul, kalo aku sembuh dari amnesia dan ternyata aku ini bukan orang yang baik, bagaimana. Bisa jadi aku sembuh dari amnesia, bisa menyebabkan aku semakin jauh dari Nyonya Elena. Ya ampun. Ada apa dengan diriku sekarang???
Sesampai di Pizza Hut, aku memesan pesanan Nyonya Elena. Aku termenung di tempat tunggu. Ketika aku melihat ke tv besar di tempat tunggu. Muncul foto cantik Nyonya Elena dan Brian. Ternyata acara infotainment. Mereka duduk di sebuah meja panjang dengan beberapa orang yang tidak kukenal. Lalu ada para wartawan yang menanyai mereka. Tampaknya ini acara tanya jawab tentang film mereka yang akan syuting.
Terlihat di kamera kemesraan Nyonya Elena dan Brian. Mereka duduk berdempetan, kadang saling tersenyum menjawab pertanyaan para wartawan. Lalu kemudian mereka dishoot berdua di tempat lain, aku kenal tempatnya. Itu depan kantor Nyonya Elena. Brian merangkul bahu Nyonya Elena dan Nyonya Elena terlihat senang menempelkan tubuhnya tubuh atletis Brian. Apa yang mereka bicarakan jelas tidak aku dengar lagi. Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini.
Entah apa yang ada dalam pikiranku setelah itu sulit diceritakan. Aku pun tidak tahu ketika ternyata aku sudah di depan rumah Nyonya Elena. Pizzanya kutenteng di tangan kanan dan ketika aku tiba di kolam renang. Kulihat Sally dengan bikini warna merahnya sedang berbaring di kursi panjang. Bentuk tubuhnya yang seksi tidak membuat reaksi apapun pada tubuhku.
Nyonya Elena melihatku datang. Dia yang masih di kolam renang bersama Brian segera naik keluar dari kolam renang. What the fuck! Baru kali ini aku liat Nyonya Elena berenang dengan hanya memakai swimsuit seperti sebuah bra yang hanya menutupi sebagian payudaranya dan sebuah celana dalam mini yang mungkin hanya sekedar menutupi vaginanya. Brian mengikut di belakangnya. Aku meletakkan pizza di meja.
Aku perhatikan Brian yang hanya memakai, tampaknya hanya memakai celana dalam biasa, memeluk Nyonya Elena dari belakang. Nyonya Elena membungkuk kegelian sambil tertawa cekikikan. Kuping dan mataku terasa panas. Sally pura-pura tidak melihatku. Lalu kejadian yang lebih menghinaku terjadi. Brian seperti merogoh celananya, mengeluarkan dompetnya dan memberikan selembar uang lima ribu padaku.
“Buat tips, Mas. Makasih ya,” sambil kembali lagi memeluk Nyonya Elena dan menggelitik perutnya. Nyonya Elena seakan-akan tidak melihat kejadian itu dan kembali tertawa cekikikan karena perut mulusnya digelitik oleh Brian.
Dengan tampang yang pasti sangat kusut. Aku memasukkan “tips” dari si kunyuk ke dalam kantong celanaku dan meremasnya kuat-kuat. Aku kemudian berjalan secepat mungkin ke dalam kamarku. Masih terdengar cekikikan mereka berdua dari dalam kamarku. Aku sekuatnya memukul kasurku beberapa kali. Aku benar-benar panas. Aku tidak bisa lagi menahan kecemburuanku. Dan sekali lagi, kepalaku tiba-tiba pusing seperti tadi.
Urat-uratnya terasa berdenyut kencang. Ruangan kamarku terasa maju mundur. Aku tidak mau berteriak kesakitan. Aku tidak mau didengar oleh mereka yang sedang berada di kolam renang. Aku tidak ingin terlihat lemah. Kedua tanganku menahan di kedua sisi kepalaku. Aku berbaring di ranjangku pun tidak membantu. Seperti tadi, entah aku tertidur atau jatuh pingsan. Aku tidak tahu. Karena kesadaranku tiba-tiba hilang. (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 14)
POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG


0 comments: