Bercinta Dengan Bodyguard Part 12


Rupanya aku tertidur.  Celanaku masih berada di mata kaki.  Penisku lemas tertidur di selangkanganku.  Mungkin karena dua kali ejakulasi hari ini, membuat aku capek ketiduran.  Kulihat di sofa seberangku. Dua wanita cantik hampir bugil tertidur berhimpitan.  Aku memakai celana pendekku.  Aku berdiri menghampiri mereka berdua.  Sejujurnya ini pemandangan yang sangat menggoda. Dua wanita yang sangat menarik.  Kulit keduanya mulus.  Payudara mereka saling berhimpitan, membuat siapapun pasti akan tergiur.  Vagina keduanya terbuka, menantang untuk disetubuhi. 

Tapi aku bisa menahan diri, aku bukan tipe pria yang biasa mencuri kesempatan tampaknya.  Hawa sudah mulai dingin.  Aku masuk ke kamar Sally, mengambil selimut besar Sally.  Kuselimuti dua wanita cantik menggoda itu.  Lalu aku kembali ke kamarku di pekarangan belakang.  Terbayang kembali ejakulasiku yang terakhir.  Memuaskan pastinya tapi apalah artinya jika mereka melakukannya dalam keadaan mabuk. 

Aku hanya berharap seperti apa yang direncanakan Sally, Nyonya Elena tidak akan salah paham lagi padaku.  Semuanya akan baik-baik saja.  Aku harap begitu.  Tapi kalo ternyata mereka lupa apa yang terjadi.  Ya sudahlah.  Toh anggap saja aku masih beruntung pernah hampir bersetubuh dengan dua wanita yang menarik.

Seperti biasa jam 8 pagi, aku memotong rumput.  Mungkin Nyonya Elena dan Sally belum bangun.  Jadi tidak ada tontonan sensual di kolam renang.  Sekitar jam 10, Bi Surti menyuruhku menyiapkan mobil.  Nyonya Elena dan Sally mau pergi ke kantor katanya.

Sally duduk di depan.  Nyonya Elena duduk di belakang.  Dia tidak menyapaku tadi, langsung duduk di mobil.  Tampaknya mereka berdua lupa kejadian semalam.  Entah kenapa aku sedikit lega.

Sally sering menatapku, seakan-akan menggodaku dengan tubuh sintalnya.  Memang dari arahku, payudaranya terlihat begitu menonjol.  Tapi aku lebih sering menatap kaca spion, menunggu aku dan Nyonya Elena saling bertatapan lagi.  Sayang, itu tidak terjadi.

Ketika kami sudah sampai di kantor.
“Aku perlu ikut masuk, Nyonya?” kan aku sekarang statusnya bodyguard Nyonya Elena.

Nyonya Elena menatapku.

“Tidak perlu, Bud. Di dalam aman,” jawabannya sedikit ketus.  Sebelum turun, Sally menyentuh tanganku, menenangkanku.

“Sabar Bud.  Bentar lagi juga dia ga akan ngambek lagi kok,” hiburnya sambil tersenyum manis.

Tampaknya mereka benar-benar lupa soal semalam, terutama Nyonya Elena.  Kini aku merasa sedih.  Aku pikir setelah kejadian semalam yang begitu panas.  Aku pikir Nyonya Elena sudah melunak.  Tapi jawaban ketusnya tadi dan tatapan tajamnya mengatakan lain.  Jelas dia masih salah paham.  Aku jadi ingin Nyonya Elena mabuk lagi sajalah.  Aku jadi tidak tenang menunggu mereka di mobil.  Tapi aku pun tidak berani masuk ke dalam Nyonya  Elena.  Malah nanti dia tambah marah melihat aku masuk ke sana.

Mungkin sudah saatnya aku harus jujur pada perasaanku.  Aku menyukai Nyonya Elena.  Meskipun aku amnesia dan sekarang statusku adalah supir dan bodyguardnya.  Tapi aku tetap manusia.  Aku punya rasa cinta.  Aku pun merasakan Nyonya Elena pun ada menaruh sedikit perhatianku.  Bukannya aku ge-er tapi cukuplah beberapa hari ini, aku bisa menilai dari gerak-geriknya padaku.  Lagipula jika aku menyatakan perasaanku pada Nyonya Elena, mungkin Sally akan berhenti “menyerang” diriku. 

Mungkin aneh, aku baru mengenal Nyonya Elena, tapi entah kenapa aku sepertinya sudah mengenalnya dulu.  Jadi wajahnya terasa akrab di benakku.  Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja.  Tapi aku laki-laki, apapun yang terjadi aku harus mengungkapkannya.  Agar dia tidak salah paham padaku.  Aku takut dia mengira aku ada hati dengan Sally padahal tidak.  Mumpung Nyonya Elena pun tidak dekat dengan pria manapun, karena memang dia baru saja ditinggalkan suaminya.

Mungkin ini kesempatanku.  Aku tidak berharap dia akan membalas cintaku. Tapi siapa tahu, ternyata dia ada perasaan juga padaku, itu lebih baik.  Tapi yang penting aku harus mengutarakan isi hatiku agar dia tidak salah paham tentang aku dan Sally.  Ya, aku sudah membulatkan tekadku.  Aku akan melakukannya. Lebih bagus lagi aku mengatakannya di depan Sally.  Biar dia pun tahu isi hatiku dan tidak menggangguku lagi.  Terbayang kembali wajah dan bodi Sally yang menggoda.  No, stop!  Aku tidak suka Sally. Aku suka Nyonya Elena.

Tadi aku bosan menunggu tapi sekarang aku bersemangat menunggu mereka kembali ke mobil.  Namun ternyata aku sempat ketiduran.  Aku terbangun ketika pintu depan mobil terbuka.  Sally masuk ke dalam.  Tersenyum manis padaku.  Ah Sally kau memang menggoda, tapi hatiku sudah untuk Nyonya Elena.  Lalu pintu belakang terbuka, Nyonya Elena masuk.

Aku tersenyum padanya.  Nyonya Elena hanya mengangguk.  Kuhidupkan mobil.  Tapi kemudian Nyonya Elena bersuara

“Tunggu Bud, ada yang mau ikut kita,” ujarnya padaku.  Aku bertanya-tanya siapa.  Aku menatap Sally.  Dia hanya mengangkat bahunya penuh arti.

Lalu seorang pria masuk ke dalam.  Tampang masih muda, badan atletis, wajahnya itu...ganteng sekali.  Aku pun yang seorang laki-laki harus mengakui ketampanan wajahnya.  Ditambah pakaiannya yang jelas sangat mahal dan terlihat sangat menawan padanya.

“Terima kasih sayang,” sambil nyengir dia mengecup pipi Nyonya Elena.  Aku menatap Sally seakan-akan meminta penjelasannya.  Lalu aku menatap pria itu yang duduk begitu dekat dengan Nyonya Elena dan Nyonya Elena sepertinya sangat senang menerima kecupan dari pria tampan itu.

“Kamu ganteng banget sih, Brian,” Nyonya Elena mengelus pipi pria tampan itu.  Lalu dikecupnya lembut bibir Brian di depan aku dan Sally.

Aku menatap mereka lekat-lekat.  Panas.  Dadaku bergemuruh.  Dan terasa semakin panas terhimpit. (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 13)

POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG
Next
Previous