Bercinta Dengan Bodyguard Part 11
Sally begitu menyadari kehadiran Nyonya Elena, langsung melepaskan penisku dari mulutnya. Aku otomatis menutup penis dengan kedua tanganku. Nyonya Elena masih membelalakan matanya. Tanpa berkata apapun, dia langsung keluar dari kamarku.
Waduh, mati aku, batinku. Sudah tidak ada harapan lagi bagiku. Tiba-tiba aku merasa kehilangan semangat. Sally buru-buru memakai lagi kimononya.
“Bud, kamu jangan khawatir, aku tau cara mengatasi Lena,” sambil memberikan cium jauh untukku dan dia menyusul Nyonya Elena. Dengan tanpa semangat, aku memakai kembali celana pendekku. Penisku langsung lemas secara drastis. Apa yang Nyonya Elena pikirkan tadi ketika melihat Sally telanjang bulat dan penisku lagi dikulum Sally. Harusnya aku dari awal mencegah Sally melakukan itu. Tapi aku terpana pada tubuh telanjangnya yang begitu menggiurkan. Benar-benar tubuh montok yang menggoda. Aku memaki diriku sendiri.
Harusnya kau bisa mencegah hal ini terjadi, Bud. Dasar cowo tidak berguna. Semakin memaki diriku sendiri, semakin aku merasa harapanku yang tadinya melambung tinggi karena menjadi bodyguard Nyonya Elena, kini terhempas ke dasar jurang yang paling dalam. Mudah-mudahan Sally bisa memperbaiki hal ini, toh sebagian besar ini kesalahannya, karena maen nyosor aja ke kamar aku dengan tubuh tanpa busana. Aku berdoa Sally bisa menyelesaikan masalah ini dan Nyonya Elena tidak salah paham.
Waktu berjalan sangat lama bagiku. Padahal baru dua jam berlalu sejak Nyonya Elena memergoki kami. Aku haus. Aku berjalan pelan menuju dapur. Kamar Bi Surti sudah gelap, pertanda dia sedang tidur sangat lelap. Beberapa kali kalo Bi Surti sudah tertidur, sulit sekali membuat dia terbangun. Aku menuju dapur. Aku ingin minum air dingin. Kudengar sayup-sayup alunan music disco dari ruang tamu.
Setelah aku minum sebotol air dingin sampai habis. Ternyata aku haus sekali. Pelan-pelan aku mengintip ke arah ruang tamu. Bau alkohol tercium. Nyonya Elena dan Sally lagi berjoget tidak karuan, tidak sesuai dengan irama musik. Kulihat beberapa botol, sepertinya minuman beralkohol berdiri di atas meja. Melihat gerakan mereka, jelas mereka sudah mabuk. Jadi ini caranya Sally membereskan masalah. Mabuk-mabukan.
Tanpa aku sadari, posisi aku mengintip tidak terhalang tembok lagi. Sally melihatku.
“Bud, sini!” lambainya.
Nyonya Elena sedang duduk disofa, menuangkan minuman lagi ke gelasnya. Aku bertanya-tanya sudah berapa gelas yang mereka minum. Begitu aku mendekat, Sally menarik tanganku dan mendorongku untuk duduk di sofa di seberang Nyonya Elena. Bau alkohol sangat menyengat dari mulutnya. Kemudian Sally duduk di samping Nyonya Elena, menuang minuman lagi ke gelasnya.
“Mau, Bud?” tanyanya mendekatkan gelas minumnya ke arahku.
Aku menggelengkan kepala. Nyonya Elena lagi bersandar, menyilangkan kakinya. Memakai daster terusan sepanjang lutut. Mereka berdua tos lalu minum beberapa teguk. Nyonya Elena menatapku dengan pandangan sayu, sepertinya sudah cukup mabuk. Aku bingung harus ngapain disini. Tiba-tiba Nyonya Elena berkata
“Bud, kata Sally kontolmu besar ya?” sambil nyengir ke arah Sally. Aku kaget mendengar kata-katanya. Aku yakin kalo tidak dalam keadaan mabuk, Nyonya Elena tidak akan mengeluarkan kata-kata seperti itu.
“Gua dulu cuma liat sekilas, Sal. Ga dari deket,” Nyonya Elena mengatakan itu sambil menyeringai mabuk. Entah kenapa Sally ikut tertawa. Aku tidak yakin dia mengerti apa yang Nyonya Elena ucapkan.
“Buka celana kamu, Bud. Aku pengen liat lebih dekat kontolmu,” sekali lagi kata-kata Nyonya Elena mengagetkan aku. Jelas aku tidak melakukan apa yang dimintanya. Orang lagi mabuk mana sadar apa yang dia ucapkan.
“Loe pengen nyicipin Sally kan?” sambil menyimpan gelas di meja dan tangan kanannya menyusup masuk ke celah kimono Sally. Dengan hentakan keras, terbukalah kimono Sally. Belahan payudaranya yang bulat terlihat kembali. Sangat membusung. Sally hanya menggumam tidak jelas. Nyonya Elena menyibakkan kimono Sally hingga bagian atas tubuh Sally kini terbuka.
“Loe dulu boong ama gua, Bud. Jelas teteknya Sally lebih bagus dari punya gua,” sudah tidak pakai kata aku dan kamu lagi. Aku tambah kaget ketika Nyonya Elena meremas payudara kanan Sally. Sally hanya mendesah tidak jelas. Entah dia menikmati atau tidak. Nyonya Elena meremas payudara Sally sambil menatapku.
“Loe mau sentuh teteknya Sally, Bud?” kata-katanya sudah tidak terkontrol lagi. Namun situasi aneh ini malah membuat penisku kembali berdiri. Nyonya Elena mendekatkan mulutnya ke arah puting Sally yang coklat. Mulai mengeluarkan lidahnya dan menjilati puting kanan Sally.
Ya ampun, aku kaget tapi birahiku muncul. Penisku lebih berdiri lagi melihat adegan ini. Terdengar hisapan Nyonya Elena, menyedot puting Sally. Sally kini merintih. Gelasnya sudah disimpan oleh Nyonya Elena di meja. Mulut menghisap puting Sally, tangan kanan Nyonya Elena meremas payudara Sally sebelah kiri. Penisku berdiri lebih tegak lagi. Sally menatapku dengan pandangan sayu ketika kedua payudaranya dipermainkan Nyonya Elena. Aku ingin menghentikan Nyonya Elena tapi entah kenapa aku malah ikut terlarut dalam permainan yang memabukkan ini.
“Liat Sal, cowo munafik. Kontolnya uda berdiri tuh,” Nyonya Elena tertawa cekikikan. Sally menjilati bibir bawahnya yang merekah. Cowo munafik, apa maksudnya. Maklum saja, dia kan lagi mabuk, pikirku. Iya penisku sudah sangat menyembul dari balik celana pendekku. Aku memang tidak pakai celana dalam.
“Sal, loe mau nyobain kontol Budi lagi?” kembali kata vulgar muncul dari mulut mungil Nyonya Elena. Pandangan Sally kini tertuju pada selangkanganku.
“Lena, loe kali yang mau?” Sally yang sudah terbakar birahi, melancarkan balas dendamnya. Dia menurunkan tali daster Nyonya Elena, sehingga kini payudara kanan Nyonya Elena terlihat penuh sedangkan yang kiri terlihat sebagian. Putingnya yang merah muda ternyata sangat indah. Meskipun ukuran payudaranya lebih kecil, tapi jika dipadu dengan wajahnya, jelas lebih menggoda Nyonya Elena. Celana pendekku semakin sesak. Aku menelan ludah berkali-kali. Sudah lama aku ingin melihat tubuh Nyonya Elena tanpa busana. Ternyata dalam situasi seperti ini baru terkabulkan.
“Lena, gimana kalo kita bikin kontol Budi lebih ngaceng lagi?” Sally berdiri, melepaskan sisa kimono yang masih menggantung di tubuhnya. Sehingga seperti tadi di kamarku, tubuhnya berdiri polos tanpa busana. Nyonya Elena sepertinya tidak mau kalah. Dia pun menurunkan tali dasternya dan kini didepanku Nyonya Elena berdiri hanya mengenakan celana dalam kecil berwarna merah muda, selaras dengan warna puting susunya.
Ya ampun. Dadaku panas, darahku bergolak melihat dua wanita cantik berdiri bugil di depanku. Tubuh Nyonya Elena yang putih begitu menggiurkan dengan lekuk-lekuknya. Adegan berikutnya, giliran Sally yang meremas payudara kiri Nyonya Elena. Meremasnya sedemikian rupa sampai Nyonya Elena merintih tertahan. Dalam otakku, aku pun ingin ikut bugil seperti mereka dan langsung menyergap mereka untuk bercinta saat ini.
Tapi untung masih bisa kutahan, hanya tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan. Adegan berikutnya lebih gila lagi. Dengan liarnya, Sally melumat bibir Nyonya Elena yang mungil sambil merengkuh tubuh Nyonya Elena sehingga berhimpit dengan dadanya. Nyonya Elena pun tidak kalah sengitnya membalas lumatan bibir Sally. Buah dada mereka saling berhimpit dan saling bergesekan. Penisku mulai terasa ngilu, berontak ingin keluar kandang. Tanpa sadar aku mulai meremas penisku sendiri dengan tanganku yang menyelip masuk ke dalam celana pendekku.
Nyonya Elena berbisik di telinga Sally. Entah apa yang dia ucapkan. Namun sedetik kemudian, Sally berlutut di depan Nyonya Elena dan dengan giginya, menggigit pinggiran celana dalam Nyonya Elena dan menarik celana dalam itu turun. Bulu-bulu halus terlihat, lalu celana dalam itu semakin turun sampai pangkal paha Nyonya Elena. Bulu-bulu halus yang terawat rapi seperti Sally terlihat jelas. Belahan vaginanya tampak sekilas. Mereka tidak sadar, aku sedang mengocok penisku.
“Masih ga mau buka celana, Bud?” goda Nyonya Elena. Kini tubuhnya sudah sama polosnya dengan Sally. “Loe ga tergoda dengan vagina Sally?” Semakin gila adegan di depanku. Dengan tangan kanannya, Nyonya Elena mengelus selangkangan Sally, seakan-akan mewakili aku untuk menyentuhnya. Tekanan di kepalaku semakin menjadi-jadi, birahiku sudah di ubun-ubun.
Kembali Nyonya Elena membisikkan sesuatu di telinga Sally. Lalu selangkah demi selangkah, tangan Nyonya Elena tetap mengelus-elus selangkangan Sally, mereka mendekat ke arahku. Kepala Sally sedikit bersandar di dada Nyonya Elena, menikmati elusan tangan Nyonya Elena pada vaginanya. Setelah mereka benar-benar di depanku. Sally mengangkat kaki kirinya dan ditumpunya ke sandaran tangan sofa tempat aku duduk. Terlihatlah belahan klitorisnya. Sudah basah. Kini dengan jarinya, Nyonya Elena mengelus bibir klitoris Sally. Membuat Sally menggelinjang kenikmatan. Pandangan mataku tidak lepas dari vagina Sally. Lalu aku menatap kedua wanita di depanku. Pandangan mata mereka seperti gadis binal yang sedang merangsangku.
Sepertinya meskipun mabuk, Nyonya Elena bisa melihat bahwa aku sudah terbakar birahiku. Nafasku sudah sangat memburu. Nyonya Elena mendorong bahu Sally agar berlutut di depanku. Tangan Sally langsung mengelus pahaku yang sedikit berbulu. Lebih gila lagi, Nyonya Elena pun ikut berlutut di samping Sally dan ikut-ikutan mengelus paha kiriku. Tangan mereka berdua menggerayangi kedua pahaku. Oh MY God, aku sudah tidak kuat lagi. Penisku benar-benar berdiri maksimal, berdenyut-denyut kencang. Seperti diberi komando, mereka berdua masing-masing dari sisi kiri dan kanan, membuka celana pendekku.
Menariknya sampai ke mata kaki. Aku tidak melawan. Penisku kini bebas berdiri tanpa halangan. Nyonya Elena terlihat kagum melihat penisku ereksi sangat hebat. Sally pun terlihat ingin langsung memegang penisku. Sekali lagi seperti dikomando. Sally meremas batang kemaluanku dan tampaknya masih malu-malu walaupun sedang mabuk, Nyonya Elena mulai menyusuri buah zakarku dengan jari-jarinya yang mungil. Dirabanya bulu-bulu halus yang tumbuh disana. Kepalaku mendongak ke atas, menikmati sentuhan-sentuhan tangan mereka. Kini wajah mereka begitu dekat dengan alat kelaminku. Hembusan nafas mereka yang hangat terasa menyentuh penisku.
“Gede kan, Len?” Sally bertanya dengan suara seperti mendesah. Nyonya Elena mengangguk, tidak berhenti menatap penisku.
“Loe mau nyicipin ga?” tanya Sally lagi. Nyonya Elena seperti ragu-ragu. Tanpa menunggu jawaban Nyonya Elena, Sally langsung saja memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Hangatnya mulut Sally dan lidahnya membuat penisku terasa ngilu nikmat. Sally begitu buasnya memainkan penisku dengan mulutnya, lidahnya dan bibirnya. Menjepit, menghisap dan menjilati penisku. Nyonya Elena sementara hanya mulai meremas-remas buah zakarku. Beberapa kali dia menatap Sally dan menatap ke arahku yang mulai mengerang menikmati kuluman Sally. Pandangan mata Nyonya Elena seperti ingin melakukan apa yang Sally lakukan pada penisku tapi dia malu. Mungkin dia sudah tidak mabuk lagi. Sedangkan Sally mau mabuk atau tidak, jelas dia suka bermain dengan penisku.
Aku seperti seorang raja di surga yang sedang dilayani oleh dua pelayan cantik aduhai. Aku memang amnesia, tapi amnesia yang beruntung. Remasan Nyonya Elena pada buah zakarku semakin kuat, menandakan dia pun sedang horny. Air liur Sally sudah membasahi penis dan buah zakarku. Membuat penisku mulai berkedut-kedut cepat. Sally bisa merasakan bahwa sebentar lagi aku akan ejakulasi. Dikeluarkannya penisku dari mulutnya dan dia mulai mengocok-ngocok batang penisku. Nyonya Elena mendekatkan wajahnya pada penisku. Begitu dekat dengan kepala penisku. Sayangnya aku tidak tahan, aku sudah tidak kuat lagi. Aku menyemprotkan spermaku, mengenai pipi dan hidung Nyonya Elena. Semprotan kedua sekali lagi mengenai wajahnya. Nyonya Elena menjerit. Sally mengocok penisku tambah cepat. Semprotan ketiga meloncat ke atas dan jatuh ke selangkangan dan pahaku.
Nyonya Elena tampak takjub melihat semprotan spermaku yang kencang. Spermaku mulai mengalir turun ke ujung hidung dan dagunya. Sally pun seperti tidak ingin menyia-nyiakan spermaku. Dijilatnya sperma yang ada di wajah Nyonya Elena, lalu yang berceceran di selangkangan dan pahaku. Setelah terkumpul semua dalam mulutnya. Dia membuka mulutnya, memainkan spermaku yang kental dengan lidahnya dan akhirnya menelan semua sperma dalam mulutnya. Penisku masih terasa ngilu melihat apa yang dilakukan Sally. Aku melihat ada sedikit sperma yang masih menjuntai di dagu Nyonya Elena. Dengan ragu-ragu, Nyonya Elena mengambil dengan jarinya dan dimasukkan jarinya yang terbalut spermaku ke dalam mulutnya. Dan mengisap jarinya sambil menatapku. Benar-benar sangat cantik ketika dia melakukan itu. (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 12)
POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG


0 comments: