Bercinta Dengan Bodyguard Part 19


Sekilas dari siluet wajahnya terlihat seperti Bambang.  Tapi bukan dia.  Kulihat pistol berperedam di tangan kanannya yang ditahan oleh sandaran kursi.  Tubuhnya kecil, jauh dibandingkan Bambang.  Tapi sekali lagi wajahnya mengingatkan aku pada Bambang.

“Siapa kau?” tanyaku.  Aku berusaha keras tidak merogoh pisau di ikat pinggang belakangku.  Aku harus kuat. Sabar Nyonya Elena, aku akan segera menyelamatkanmu.

“Aku Bondan,” suaranya pun sekilas terdengar seperti Bambang.  Siapakah dia sebenarnya?

“Aku dengar kau menghilang setelah tugas terakhirmu,” Bondan melanjutkan.

Tugas terakhir?  Menghilang?  Aku tidak tau maksud pembicaraannya.

“Maksud kau?” aku berusaha mengulur waktu sambil memikirkan cara menyelamatkan Nyonya Elena.  Nyonya Elena menatapku dengan tatapan ketakutan.  Tubuhnya berusaha menggeliat ingin membebaskan dari ikatan pada kursi.  Sabar Nyonya, mohonku dalam hati.

“When there is no light....” Bondan mengucapkan sesuatu yang tidak kupahami namun bibirku secara refleks mengeluarkan kata-kata

“I will be your shadow,” aku terkejut karena tanpa aku sadari aku mengucapkan kata-kata itu.

“Benar dugaanku.  You’re him.  You’re  The Legend,” lanjut Bondan.

Apa maksudnya?  Seorang legenda.  Apakah dia tahu siapa aku? Tapi aku tidak mau mengakui di depannya kalo aku mengidap amnesia.  Aku menatap Nyonya Elena.  Mata Nyonya Elena terbelalak menatapku.  Mungkin dia sama kagetnya atau sama bingungnya dengan apa yang diucapkan Bondan.

“Pantas saja adikku, Bambang tewas di tanganmu.  Jelas dia bukan tandinganmu,” suaranya terdengar datar tanpa emosi.

Hal ini membuat aku sedikit bergetar.  Bukan karena dia kakaknya Bambang tapi dia mengucapkan kata-kata itu  tanpa emosi.  Tidak terdengar intonasi penuh dendam lewat suaranya.  Padahal dia tahu aku yang sudah membunuh adiknya.  Hal ini membuat dia menjadi lawan yang sangat berbahaya.

Aku menghitung jarak antara aku dengan Nyonya Elena.  Sulit bagiku untuk bergerak cepat melindunginya dari ancaman peluru Bondan.  Aku berusaha menggerakkan kakiku untuk memperpendek jarak antara aku dan Nyonya Elena.

“Sekali lagi kakimu bergerak.  Aku akan langsung menembaknya,” Bondan berbicara lagi dengan datar.

Sialan.  Benar-benar lawan yang tangguh, batinku.  Sabar Nyonya Elena.  Aku harus memikirkan cara lain.

“Mengapa kau ingin membunuh Nyonya Elena?” aku berusaha mengulur waktu lagi.

“Baiklah, kau ingin mengulur-ulur waktu.  Aku kabulkan,” Bondan tertawa dingin.

“Istri bapak itu yang menyewaku,” tangan kirinya menunjuk foto kawin Nyonya Elena dan Pak Santoso  yang tergantung di dinding.  Aku menatap foto itu sekilas.  Terbayang kembali mimpiku tentang Pak Santoso.  Aku sekilas menatap lagi Nyonya Elena yang masih menatapku dengan mata terbuka lebar.

“Aku pikir ini tugas yang gampang, jadi aku menyuruh Bambang untuk melakukannya karena aku ada tugas lain yang cukup menantang.  Aku pikir membunuh seorang wanita pastilah gampang bagi Bambang.  Sayangnya aku tidak terlalu menganggap penting hadirnya seorang supir baru disini.  Andai saja aku mendengarkan dengan seksama ciri-ciri supir yang diceritakan Bambang.  Mungkin Bambang tidak akan mati ditanganmu,”  suaranya terdengar agak emosi.

Bagus, pikirku.

“Aku biarkan saja Bambang memakai cara apapun termasuk menulis surat kaleng untuk menakuti-nakuti Nyonyamu ini.  Hitung-hitung pemanasan buat dia untuk menjadi seorang pembunuh bayaran.” Nada suaranya terdengar menyesal.

Pancing terus agar emosinya keluar, Bud.

“Maaf, aku sudah membunuh adikmu dengan tusukan pisau kecil dilehernya,” aku sengaja mengucapkan itu dan menekankan kata pisau kecil.  Mudah-mudahan emosi Bondan terpancing.

“Dengan kemampuanmu, tentu saja sangat mudah untuk melumpuhkan adikku,” aku yakin matanya menatapku dengan sorot tajam.  Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Nyonya Elena.  Jelas kecepatan melempar pisauku akan kalah dengan kecepatan pelurunya.

“Memang dia bukan adik yang baik.  Tapi dia tetap adikku dan kau telah membunuhnya.  Jadi siapa  yang mau mati duluan?” lanjutnya.

Aku sudah memperhitungkan dengan seksama.  Jarak aku ke kursi Nyonya Elena lebih jauh daripada jarak aku memotong jalur tembak pelurunya yang bakal ditembakkan dari ujung ruangan tempat Bondan duduk.  Aku menatap Nyonya Elena yang kini menatapku dengan pandangan sangat ketakutan.  Aku mencintaimu Nyonya Elena. Aku tidak akan membiarkan dia membunuhmu, batinku.  Aku harus melakukannya sekarang.

Dengan cepat aku melemparkan kunci mobil dari kantongku ke arah Bondan dengan tangan kiri  Mengalihkan perhatiannya.  Aku bergerak ke arah jalur tembak pelurunya.  Bondan kaget tapi tetap dia bisa menekan pistolnya untuk menembak.  Aku bergerak cepat.  Kurasakan perut bagian kiriku nyeri terkena timah panas. Aku mendengar jeritan Nyonya Elena.  Kutahan rasa sakitku.  Aku meraih pisau besar di ikat pinggangku.  Sekali lagi peluru berdesing.  Jeritan Nyonya Elena tetap terdengar.  Peluru kedua mengenai dada kiriku dekat pundak.  Kunci mobilku mengenai wajahnya.  Aku merasa kakiku sedikit lemah karena dua titik nyeri di tubuhku.  Aku meloncat menyergap Bondan dengan tusukan di lehernya, itu tujuanku semula.  Namun sedikit meleset karena dua luka ditubuhku membuat titik sasaranku bergeser.

Pisau itu menancap di dada atas Bondan dekat leher.  Pistol Bondan terjatuh karena terdorong tubuhku.  Mata Bondan membelalak menatapku.  Aku tidak mau kalah, aku menatap tajam padanya.  Kutekan pisau dalam-dalam.  Siku kiri Bondan yang tidak tertekan oleh tubuhku dihantamkan Bondan ke arah kepala kananku dengan sangat keras.  Refleksku melemah karena luka ditubuhku terasa tambah menyakitkan.  Beberapa kali siku Bondan menghantam kepala kananku dengan keras.  Membuat kepalaku pusing.  Namun tujuanku hanya satu, menusukkan pisau ini lebih dalam.  Kursi tempat Bondan duduk terguling jatuh oleh gerakan kami berdua.  Beruntung. Dengan berat tubuhku yang menindih Bondan membuat pisau itu menancap semakin dalam.  Nafas Bondan mulai terasa berat.  Darahnya jelas mengalir sama banyaknya dengan darahku di lantai.  Tangan kanan Bondan yang kini bebas seperti mencari sesuatu di bawah ranjang.  Dan dia menemukan sesuatu benda keras di sana.  Sebagai upayanya yang terakhir, dia memukulkan benda keras itu ke kepala kiriku.  Membuatku aku terjatuh ke sampingnya.

Pegangan tanganku pada gagang pisau terlepas.  Kepalaku seperti terbelah tujuh.  Pusing sekali.  Untungnya itulah gerakan terakhir dari Bondan sebelum dia tewas terkapar.  Dengan sakit kepalaku yang sangat menyiksa ditambah dua luka ditubuhku yang mengalirkan darah segar.  Sekuat tenaga aku menarik pisau dari dada Bondan.  Aku berusaha berdiri dan berjalan sangat payah ke arah Nyonya Elena. Tangisan Nyonya Elena yang membuatku masih kuat untuk bergerak ke arahnya.  Air mata Nyonya Elena mengalir membasahi wajahnya.  Aku jatuh terduduk dekat kursi Nyonya Elena.

“Budi...Budi...Budi,” hanya itu yang bisa Nyonya Elena ucapkan.  Sementara aku berusaha menghimpun tenagaku untuk menggerakkan pisau, memotong tali yang mengikat Nyonya Elena.  Hanya beberapa ikatan yang aku potong sebelum akhirnya aku merasa begitu lemah dan kepalaku terkulai jatuh dengan kepalaku menghantam lantai.
POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG

Next
Previous