Bercinta Dengan Bodyguard Part 16



“Tenang aja, Nyonya,” terdengar suara Bambang. “Aku hanya ingin mencicipi mulusnya pahamu.”

Hatiku langsung panas mendengarnya.  Aku berusaha tenang.  Aku melihat sekeliling, mencari alat yang bisa kugunakan sebagai senjata.  Aku melihat sebuah pisau kecil.  Dengan gagang kayu yang sangat ringan.  Daripada tidak ada, dengan cepat kuambil pisau itu.  Kutimang-timang di tanganku.  Sangat ringan.  Tidak bisa kugunakan untuk dilempar jarak jauh.   Pisau itu hanya bisa kugunakan untuk pertarungan jarak dekat.  Sosok besar yang menunggu di samping pintu tampaknya pandangannya sedang menatap ke arah Nyonya Elena.  Mungkin dia sedang menikmati Bambang yang sedang mengelus paha Nyonya Elena.  Karena kudengar Bambang terkekeh mesum dan Nyonya Elena berusaha menahan jeritannya.  Ingin berontak dan berteriak pasti tidak berani.

Aku berharap musuhku hanya dua orang saja.  Jantungku berdegup kencang.  Aku merasakan adrenalinku terpompa.  Aku memikirkan berbagai skenario yang terancang di otakku.  Ketika aku masih berpikir, tiba-tiba seperti suara kain ditarik dan kini Nyonya Elena terdengar menjerit.

“Wah benar-benar payudara yang indah.  Tidak besar seperti Sally si pelacur.  Terlalu besar” Kembali Bambang terkekeh.  “Uggh kenyalnya.”  Nyonya Elena menjerit.  Suara jeritannya tidak mungkin terdengar karena terdengar suara kesibukan di dapur. Sedangkan di cafe bagian depan ada live music performance.  Aku harus bergerak cepat.  Aku bergerak mendekati si tubuh raksasa itu dari belakang.   Menempelkan pisau kecilku di lehernya.

“Hentikan, Bang!” teriakku.  Aku segera memperhatikan situasi dengan cepat.  Payudara Nyonya Elena terbuka karena gaun depannya ditarik sampai di bawah bulatan payudara Nyonya Elena.  Gaun bawahnya sobek sampai ke atas, memperlihatkan paha kirinya yang putih.  Darahku panas melihatnya, tapi aku harus tetap waspada.  Bambang berdiri di depan Nyonya Elena, memegang pistol berperedam.  Posisinya kira-kira 2-3 meter di depanku.

“Muncul juga loe, Bud,”  Bambang terlihat percaya diri, mungkin karena tangan kanannya memegang pistol.  Aku bersembunyi di balik tubuh kekar kacungnya ini.  Menurut logikaku, si raksasa ini memang kacungnya.  Si raksasa itu tidak berani bergerak karena pisauku menempel di lehernya.

“Loe mau apa, Bang?”  kepalaku bergerak-gerak posisinya agar sulit bagi Bambang untuk menembakku.

“Gua mau apa?  Gua mau Nyonya loe ini mati.  Gua uda disewa orang untuk membunuhnya.  Tapi sebelum dia mati, gua ingin mencicipi tubuhnya dulu.  Dari dulu gua pengen mencicipi tubuh putih mulusnya,” jelasnya sambil tangan kirinya sekali lagi meremas payudara kanan Nyonya Elena.  Sementara ini aku harus tahan melihatnya, aku tidak boleh emosi, tidak boleh gegabah.  Wajah Nyonya Elena terlihat sangat ketakutan.  Sabar Nyonya, batinku.

“Siapa yang pengen Nyonya Elena mati?” tanyaku memancing informasi tapi sebenarnya tanpa Bambang sadari, aku mendorong tubuh raksasa ini maju sedikit demi sedikit, agar posisiku tidak terlalu jauh dari posisi Bambang.  Pisauku lebih berguna untuk pertarungan jarak dekat, sedangkan posisi Bambang kini lebih menguntungkan dengan pistol di tangannya.

“Siapa lagi kalo bukan istri pertama Pak Santoso,” lanjut Bambang tanpa sadar akan strategiku.  Oh pantes pikirku.  Tapi tidak mungkin istri pertama Pak Santoso mau menyewa seorang amatiran seperti Bambang.  Pasti ada cerita lain di balik itu.

“Ga mungkin dia mau menyewa seorang amatiran seperti loe, Bang,” aku ingin memancing emosi Bambang juga karena aku tau orang yang lagi emosi biasanya cenderung ceroboh.

“Loe jangan sombong, bangsat.  Gua sekarang pegang pistol, coba loe mendekat kalo loe berani!”  Bambang mulai marah.  Tanpa dia ketahui sebenarnya posisiku memang sudah lebih dekat dari sebelumnya.
“Pasti loe cuma kacung seseorang kan?  Loe hanya bawahan doang!” jarakku tinggal satu meter setengah dari Bambang.

Bambang tampak marah mendengar perkataanku.  Melihat ekspresinya, benar dugaanku, dia hanya seorang bawahan saja.  Gengsi Bambang terusik.  Dia mengarahkan pistolnya padaku.  Aku masih aman berlindung di balik tubuh raksasa sanderaku.

“Gua buktikan kalo gua bukan amatiran!” teriaknya sambil tangannya mulai menekan pemicu pistol dan peluru mulai tertembak ke arahku.  Tembakan demi tembakan mengenai tubuh bagian depan raksasa pelindungku ini.  Tentu saja hanya terdengar bunyi ssstt dan teriakan kacungnya Bambang yang terkena peluru nyasar Bambang dan teriakan ketakutan Nyonya Elena.  Kedua kaki kacungnya mulai goyah, pertanda dia sudah mulai meregang nyawa.  Sementara aku masih harus berlindung dari tembakan Bambang.  Aku menendang kedua kaki bagian belakang lutut raksasa ini sehingga dia tidak terjerembab jatuh begitu saja tapi jatuh bertumpu pada kedua lututnya.  Sehingga aku pun masih bisa berlindung berjongkok di belakang tubuh besarnya.  Menurut perhitunganku, sisa peluru Bambang tinggal satu.  Entah dia menghitungnya atau tidak.

“Loe jangan sembunyi di belakang orang kalo berani.  Keluar ga atau gua tembak nih kepala Nyonya cantik loe!” aku melihat Bambang mau mengarahkan pistol ke arah Nyonya Elena.  Aku harus cepat bertindak.  Kugerakkan tangan kiriku ke atas seakan-akan hendak melakukan sesuatu.  Bambang terpancing oleh gerakanku.  Dia tidak jadi mengarahkan pistol pada Nyonya Elena tapi mengarahkan pistol ke arah tangan kiriku dan dia kembali menembakkan pelurunya.  Untung dia tidak pintar menembak, peluru hanya menyerempet otot bisepku.  Kutahan rasa sakitku.  Kudorong ke depan tubuh raksasa yang sudah tewas itu.  Aku segera menerjang Bambang dari bawah.  Perhatian Bambang teralihkan dengan jatuhnya tubuh kacungnya di depannya.  Kugunakan pisau menyayat pergelangan nadinya yang sedang memegang pistol.  Untung berjaga-jaga siapa tahu aku salah menghitung jumlah peluru.  Bambang berteriak kesakitan dan pistolnya terjatuh.  Ketika tangan kiri Bambang hendak meninjuku.  Dengan cepat aku menusukkan pisau kecil itu di bagian lembut di kiri jakunnya.  Darah memuncrat mengenai lengan jaketku dan mungkin juga mengenai Nyonya Elena.  Tangan kiri Bambang yang sudah terkepal hendak meninjuku langsung turun lemas.  Matanya melotot menatapku.  Lalu sekali lagi kutekan pisau dalam-dalam.  Bambang langsung tersungkur jatuh ke belakang dengan darah segar memancar dari lehernya dan matanya yang melotot.

Nyonya Elena terduduk lemas.  Kulihat wajah putihnya yang pucat terciprat darah Bambang.  Aku mendekatinya.  Kuusapkan lengan jaketku di wajahnya untuk menghapus darah dari wajahnya.

“Sudah aman, Nyonya,” aku memegang kedua pipinya, agar pandangannya beralih dari memandang tubuh Bambang yang tergeletak di tanah, agar matanya memandangku, agar dia tenang.

Dengan pandangan masih penuh ketakutan, Nyonya Elena menatapku.  Nafasnya memburu.  Aku menatapnya dalam penuh kehangatan.

“Sudah aman Nyonya.  Ada aku,” aku mengelus-elus pipinya memberi kehangatan agar wajahnya tidak terlihat pasi lagi.  Setelah Nyonya Elena sedikit tenang, langsung saja dia memelukku dan keluarlah isak tangis yang mungkin sudah ditahannya sejak tadi.  Aku mengelus punggungnya.  Aku tersadar bahwa kedua payudara Nyonya Elena tidak tertutup.  Aku membuka jaketku.  Kupakaikan pada Nyonya Elena dan kutarik ristletingnya agar tertutup.  Setelah itu Nyonya Elena kembali memelukku erat-erat.  Masih tidak bersuara, hanya bisa menangis.

Dengan sekuat tenaga aku mengangkat kakinya di bagian belakang lutut dan kuangkat punggungnya dengan tangan kanan.  Sesuatu berwarna putih tampak terjatuh dari tas Nyonya Elena yang terbuka.  Aku memungutnya dan memasukkan ke dalam kantongku.  Lalu aku kembali mengangkat punggungnya.  Aku berdiri menggendongnya di depan.  Kedua tangan Nyonya Elena merangkul leherku dan kepalanya bersandar di dadaku.

Tidak mungkin aku kembali lewat dapur.  Kulihat ternyata ini sebuah gang di belakang cafe dan di ujung sana ada jalan  ke kiri, mungkin ke pelataran parkir.  Dugaanku benar.  Aku tetap menggendong Nyonya Elena sampai ke tempat mobilku.  Seorang petugas parkir tampak heran dan curiga kenapa Nyonya Elena digendong olehku.

“Mabuk, mas,” ucapku sambil tersenyum.  Tampaknya dia maklum, karena mungkin banyak pengunjung cafe ini yang pulang dalam keadaan mabuk.

“Banyak minum ya, Mas?” ujarnya.

Aku mengangguk sambil membayar parkir, aku membaringkan Nyonya Elena di kursi belakang.  Untung warna jaketku hitam, sehingga petugas parkir itu tidak melihat cipratan darah di jaketku.  Begitu sudah di belakang kemudi, aku langsung memacu mobilku pulang ke rumah Nyonya Elena.
(Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 17)

POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG
Next
Previous