Bercinta Dengan Bodyguard Part 17


Nafasku masih memburu, adrenalinku masih terpompa.  Semangatku masih ada.  Aku jadi heran kembali kenapa gerakanku begitu mematikan.  Selalu mengincar titik lemah lawan.  Siapa aku sebenarnya?

Aku menoleh ke belakang.  Nyonya Elena berbaring meringkuk.  Wajahnya sudah tidak tampak terlalu ketakutan tapi pandangan matanya tertuju padaku.  Aku tersenyum hangat padanya.  Dia tidak membalasnya.

“Sebentar lagi nyampe, Nyonya,” kataku, ingin menenangkannya.  Dia tetap diam saja.  Pandangannya tetap menatapku.

Begitu sampai di rumah, memarkirkan mobil.  Aku segera membopong kembali Nyonya Elena yang kembali merangkul leherku dengan kedua tangannya dan menyandarkan kepalanya di dadaku.  Sisa-sisa air matanya masih ada tapi dia sudah tidak menangis lagi.  Aku membawanya ke kamarnya.  Aku terhenti sebentar ketika aku menatap foto pernikahan Nyonya Elena yang terpasang di dinding.  Aku seperti pernah melihat suaminya.  Namun aku hanya terhenti sesaat, aku segera membaringkan Nyonya Elena di ranjang.  Ketika aku hendak bangkit, Nyonya Elena masih merangkul leherku.  Jarak wajah kami begitu dekat.

“Jangan pergi, Bud,” akhirnya Nyonya Elena mengeluarkan suaranya.  Terdenger masih gemetar.

Aku tersenyum.

“Aku tidak akan pergi, Nyonya,” lebih baik Nyonya bersandar dulu.  Aku meletakkan beberapa bantal dekat sandaran ranjang.  Nyonya Elena mengikuti kata-kataku.  Dia bersandar namun pandangannya tetap melekat padaku.

Aku duduk di pinggir ranjang.

“Makasih banyak, Bud,” kini tidak ada pandangan dingin pada tatapannya.  Penuh terima kasih, penuh kehangatan.  Aku mengangguk dan tersenyum hangat padanya.

“Sudah kewajibanku, Nyonya,” aku mengelus tangannya.

“Kamu sudah ingat siapa dirimu, Bud?” aku senang dia menanyakan itu lagi. Berarti Nyonya Elena sudah tidak memusuhiku lagi.

“Belum, Nyonya,” aku tertawa kecil, tujuannya agar suasana tidak terlalu tegang lagi.

“Eh lenganmu berdarah, Bud,” Nyonya Elena bergerak mendekati lenganku.  Aku pun baru ingat kembali.  Baru terasa perih lagi lukaku kena serempetan peluru Bambang.

“Ga apa-apa Nyonya. Cuma luka kecil,” kataku.  Tapi wajah Nyonya Elena tampak cemas.  Dia bangkit dari ranjang.  Menuju sebuah lemari dan mengeluarkan kotak putih.  Kotak P3K sepertinya.

“Buka kemeja kamu, Bud,” perintahnya.

“Ga perlu Nyonya.  Lukanya tidak parah kok,” jawabku menolak.

“Buka Bud.  Biarkan aku membalas budimu yang sudah menyelamatkan aku,” ujarnya ramah bercampur khawatir.  Sambil menatap mataku memohon.


Aku tidak tega untuk menolaknya lagi.  Aku membuka kemejaku.  Nyonya Elena duduk disampingku kiriku.  Mengeluarkan kapas dan pembersih luka dari kotak.  Dengan pelan dan hati-hati, dia membersihkan lukaku.

“Sakit ga?” tanya Nyonya Elena penuh perhatian.  Aku menggelengkan kepala.  Nyonya Elena cukup mahir mengobati luka.   Perban dipasangnya hati-hati.

“Selesai,” ujarnya sambil tersenyum.  Aku pun ikut tersenyum.

“Terima kasih, Nyonya,” jawabku kemudian.

“Aku yang harusnya berterima kasih,” lanjutnya sambil kemudian mencium perbanku.  Aku terkejut.  Aku menatap matanya.  Dia pun menatap mataku.  Kami saling bertatapan beberapa saat.  Lalu Nyonya Elena mendekatkan wajahnya dan mulai melumat bibirku.  Melumat bibirku dengan bibirnya yang penuh kehangatan. Aku pun otomatis membalas melumat bibirnya.  Sejujurnya aku ingin seperti ini setiap saat, menikmati kelembutan bibirnya.  Tangan kiri Nyonya Elena mengelus dadaku.  Sambil terus berciuman, dia menarik dirinya berbaring di ranjang dan aku mengikutinya, menindih tubuhnya.  Ciuman kami semakin panas.  Lidah kami saling berpagutan.  Kadang lidahku dihisap oleh Nyonya Elena, begitupun aku membalas menghisap lidahnya.  Kami saling bertukar air liur.  Desahan Nyonya Elena tertahan oleh mulutku.  Penisku mulai menegang.  Nafsuku yang selama ini hanya bisa kutahan, benar-benar jebol.  Kubuka ritsleting jaketku yang dipakai Nyonya Elena.  Terlihatlah kedua payudaranya yang indah, memang tidak sebesar Sally.  Tapi aku sudah membayangkan menyentuh payudaranya Nyonya Elena sejak lama.  Nyonya Elena menggerakkan badannya, membuka jaketku lepas.  Lalu langsung saja dia membuka gaunnya, sehingga Nyonya Elena kini hanya memakai celana dalam warna pink.  Tubuhnya yang putih mulus sangat menggiurkan.  Meskipun aku pernah melihatnya tapi situasinya berbeda.  Kini Nyonya Elena tidak dalam keadaan mabuk.  Dalam keadaan benar-benar sadar.  Nyonya Elena sudah terbakar birahi, dengan cepat dia juga membuka celanaku dan seperti terasa tanggung, celana dalamku pun dilepaskannya dengan cepat.  Tentu saja penis besarku sangat menegang.

Nyonya Elena terlihat kagum dengan besarnya penisku.  Segera dia pun membuka celana dalamnya.  Lalu kembali melumat bibirku.  Aku kembali menindih tubuh telanjangnya.  Penisku menekan paha mulusnya.  Kami berhenti berciuman sesaat sambil saling menatap.

“Aku milikmu, Bud,” ucap Nyonya Elena dengan sangat mesra.  Aku tersenyum.  Aku mulai menciumi lehernya yang putih.  Nyonya Elena menjambak rambutku.  Menekan kepalaku agar lebih menciumi lehernya.  Dadaku bersentuhan dengan kedua payudaranya yang lembut.  Benar-benar berbeda dibandingkan apa yang kurasakan ketika bercinta dengan Sally yang terkesan liar dan ganas.  Dengan Nyonya Elena, aku ingin melakukannya dengan sangat perlahan dan sangat lembut.  Aku menciumi pundaknya yang halus.  Lalu turun ke payudara kirinya. Kucium lembut bulatan payudaranya.  Nyonya Elena tertawa pelan.  Suaranya begitu menggodaku.

“Lanjutin, sayang,” ujarnya kemudian.  Aku mulai mencium puting susunya yang berwarna merah muda.  Aku menjilatinya dengan lidahku.  Membuat Nyonya Elena menggelinjang nikmat.

“Aaaah sayang, terusin sayang,” Nyonya Elena kini mengelus punggungku yang sudah berkeringat.  Aku mainkan putingnya dengan bibirku, kujepit lembut dan kutarik pelan.  Nyonya Elena kembali menggelinjang.  Kini tangannya mengelus bongkahan pantatku.  Semakin aku gencar mengecupi payudara dan putingnya, tangan Nyonya Elena kini berada pada penisku.  Memegangnya dengan lembut, mengocoknya pelan.  Giliran aku yang merasa geli-geli nikmat.

“Penismu besar banget, Bud,” tatapnya penuh birahi.  Aku tersenyum lalu kembali memainkan payudaranya yang satu lagi. Payudaranya memang terlihat indah dan terasa sangat nikmat aku mainkan.  Berbeda sekali ketika aku bermain dengan Sally.  Aku memang mencintai Nyonya Elena.

Ketika sedang asiknya aku memainkan payudara kanannya. Tiba-tiba Nyonya Elena membalikan tubuhku berbaring di ranjang.

“Aku ingin menikmati penismu, sayang.  Atau kamu senang kalo aku sebut kontol,” godanya.  Wajahnya begitu sensual ketika mengucapkan kata kontol.  Aku tersenyum pasrah.  Birahiku pun uda di ubun-ubun.  Sambil berlutut di sampingku.  Tangan kirinya memegang penisku dan tangan kanannya mengelus-elus dada dan perutku.  Nyonya Elena mulai menciumi bagian selangkanganku.  Dari sekitar bulu-bulu halus di perutku.  Lalu bibirnya yang mungil dan lembut mulai bergeser mendekati pangkal selangkanganku.  Aku sangat memejamkan mata, menikmati sentuhan bibirnya yang hangat.   Pantatku menegang ketika kurasakan batang penisku mulai diciumi oleh bibir Nyonya Elena. Tanpa sadar aku mengerang keenakan.  Apalagi ketika kurasakan lidah Nyonya Elena pun mulai beraksi, menjilati seluruh batang kemaluanku dari pangkal sampai mendekati kepala penisku

“Aaah, Nyonya, Enak banget,” erangku tanpa sadar.  Nyonya Elena terlihat senang melihat aku mengerang seperti itu.

“Kalo gini lebih enak ga?” ujarnya kemudian sambil langsung menjilati lubang pipisku dengan lidahnya.

“Aaaaahh,” aku mengerang lebih keras.  Nyonya Elena semakin bernafsu melihat responsku.  Dijepitnya kepala penisku dengan mulutnya.  Digerakan kepalanya naik turun, sehingga bibirnya bergesekan dengan kepala penisku sampai batas belahan kepala penisku dengan batang kemaluanku.  Membuatku merem melek kenikmatan.

Gaya bercinta Nyonya Elena berbeda dengan Sally yang liar.  Nyonya Elena memperlakukan penisku dengan lembut dan pelan.  Gerakannya mengoral penisku pun dilakukan dengan sangat hati-hati. Namun ini membuatku sangat-sangat kerangsang.  Walaupun dia tidak melakukan deepthroat pada penisku. Aku pun sepertinya tidak akan tega apabila Nyonya Elena tersedak oleh batang penisku.  Tapi aku merasakan sensasi yang sangat luar biasa, penisku dimainkan dan dihisap oleh Nyonya Elena.  Air liurnya sudah mengalir turun sampai buah zakarku.  Melihat aku sudah benar-benar kerangsang oleh rangsangannya.  Nyonya Elena kini duduk di atas penisku.

“Sayang, ayo masukin dong kon...tolnya,” Nyonya Elena sengaja memelankan ritme suaranya ketika mengucapkan kata kontol.  Membuatku semakin bernafsu padanya.

Ketika Nyonya Elena mengangkat pinggulnya, aku memegang penisku dan mengarahkan ke kemaluannya.  Mungkin karena ukurannya yang besar, awalnya Nyonya Elena seperti kaget ketika kepala penisku masuk ke dalam vaginanya.

“Sakit, Nyonya?” tanyaku khawatir.

“Ga sayang, hanya kaget aja abis ukuran kon..tolmu besar banget,” seperti seakan tahu kalo aku terangsang kalo aku mendengar dia mengucapkan kata itu dengan pelan.  Tapi ternyata vagina Nyonya Elena tidak sedalam Sally.  Tidak semua masuk penis aku, tapi ujung penis aku seperti sudah menyentuh ujung dalam vagina Nyonya Elena.  Tapi sekali lagi rasanya berbeda bercinta dengan Nyonya Elena.  Rasanya lebih luar biasa daripada bercinta dengan Sally.

Aku menggoyangkan pinggulku memompa vagina Nyonya Elena.  Kurasakan otot-otot vagina Nyonya Elena begitu menjepitku, lebih menjepit daripada vaginanya Sally.  Mungkin karena Nyonya Elena jarang menggunakannya untuk bercinta, tidak seperti Sally yang hyper.  Nyonya Elena meremas payudara kanannya dengan tangan kanannya sambil menggoyangkan pinggulnya juga mengikuti irama pompaanku.  Desahan Nyonya Elena terdengar begitu menikmati sodokan penisku pada vaginanya.  Beberapa kali pandangan sayu nya bertemu dengan pandanganku yang tidak pernah berhenti memandangnya.

Nyonya Elena tersenyum manis sekali.  Bibirnya begitu menggoda.  Mungkin ingin berganti posisi, kini Nyonya Elena menindih  dadaku.  Payudaranya yang basah oleh keringat bergesekan dengan dadaku.  Begitu licin dan terasa nikmat.  Lalu bibir mungilnya kembali melumat bibirku.  Lidahnya kembali menyusup bermain dengan lidahku.  Tanganku meremas kedua bongkahan pantat Nyonya Elena, menekannya ke bawah ketika aku sedang menggoyangkan pinggulku ke atas.  Kadang aku menekan dalam-dalam pinggulku ke arah selangkangannya dan berhenti bergerak memompa.  Merasakan penisku dalam kehangatan vaginanya.  Dan setiap kali aku melakukan itu, Nyonya Elena merintih lebih keras menikmati kerasnya penisku dalam vaginanya.

Tidak lama kemudian, Nyonya Elena sibuk menggerakkan pinggulnya lebih cepat.  Pertanda dia akan mencapai puncaknya.  Aku pun ingin dia mencapai klimaks yang nikmat, aku pun mempercepat pompaanku.  Dan tidak lama kemudian, Nyonya Elena menggigit bibir bawahnya.  Meremas rambutku.  Menekan pinggulnya ke bawah ke arah selangkangku dan mengerang kenikmatan.  Kedua pahanya menjepit keras pahaku.

“sssshhhhhhhh Bud,” erangnya.  Setelah beberapa saat menahan nafasnya, Nyonya Elena mulai menghembuskan nafasnya.  Dia tersenyum manja padaku.

“Kamu uda mau keluar, sayang?” tanyanya padaku.  Aku merasakan penisku seperti tersiram oleh cairan vaginanya.  Cairan vagina wanita yang kucintai tentu saja membuat penisku tidak mau kalah.

“Iya Nyonya, aku mau keluar,” jawabku cepat-cepat.

Buru-buru Nyonya Elena bangkit dan mulai meremas penisku.  Wajahnya begitu dekat dengan penisku.  Dia mengocoknya dengan cepat.

“Aahhh Nyonya,” erangku.  Semprotan pertama mengenai bibirnya yang mungil.  Nyonya Elena tetap menatapku ketika semprotan kedua diterimanya dalam mulutnya yang tiba-tiba mengulum penisku.  Semprotan berikutnya kusemprotkan dalam mulutnya yang mungil.  Mulut Nyonya Elena terasa sedang menghisap lubang penisku, menyedot spermaku dari lubangnya.  Nikmat banget rasanya.  Ngilu-ngilu enak.  Setelah semprotan spermaku berhenti.  Dengan lidah dan bibirnya, Nyonya Elena membersihkan sisa-sisa spermaku hingga bersih.  Tidak seperti Sally yang memamerkan spermaku dalam mulutnya.  Nyonya Elena langsung menelan spermaku.  Namun hal ini sudah sangat membuatku masih kenikmatan meskipun sudah orgasme.

Nyonya Elena langsung merebahkan tubuhnya bersandar di dadaku.  Aku memeluknya. Aku sengaja pura-pura tertidur. Sampai akhirnya Nyonya Elena tertidur.

Aku pelan-pelan bangun dan memakai pakaianku.  Aku menghampiri kamar Bi Surti.  Aku buka pintunya.  Aku bangunkan sampai dia benar-benar terbangun.  Aku minta tolong dia untuk menemani Nyonya Elena.  Aku tidak bilang kemana tujuanku.  Aku hanya bilang ada urusan penting.

Kemudian aku mengemudikan mobilku kembali ke cafe.  Suasana sudah sepi.  Aku segera menuju bagian belakang cafe.  Aku harus membersihkan tempat kejadian dan membuang jenasah Bambang dan kacungnya.  Begitu aku sampai di belakang cafe, aku kaget ternyata jenasah Bambang dan kacungnya sudah tidak ada.  Bahkan tidak terlihat genangan darah di tanah.  Semua seperti tidak terjadi apa-apa.  Aku heran kemana menghilangnya jenasah mereka berdua.  Dalam kebingunganku tanpa sadar aku memasukkan tanganku ke dalam kantong celana.  Tersentuh sesuatu.  Kukeluarkan dari dalam kantong. Oh benda putih yang tadi kupungut, yang jatuh dari dalam tasnya Nyonya Elena.  Ternyata secarik kertas.  Kubuka dan kubaca sebuah tulisan

“Kalo anda ingin tahu siapa Budi sebenarnya.  Temui saya di belakang cafe, pergilah lewat dapur. (Bambang)” (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 18)

POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG
Next
Previous