Bercinta Dengan Bodyguard Part 18
Bambang tahu siapa aku? Apakah Nyonya Elena sudah diberitahu oleh Bambang? Kayaknya tidak mungkin, kalo Nyonya Elena tahu siapa diriku, pasti dia akan langsung memberitahuku. Mungkin ini hanya akal-akalan Bambang untuk memancing Nyonya Elena pergi ke belakang. Iya pasti itu. Aku ragu kalo Bambang tahu siapa diriku. Pasti dia menyuruh kacungnya untuk memberikan ini pada Nyonya Elena di dalam cafe tadi. Dugaanku, pasti diselipkan di meja sementara si kampret Brian sedang bercinta dengan waitress cantik itu. Dasar playboy!!!
Pikiranku kembali tentang menghilangnya mayat Bambang dan begundalnya, sambil aku melangkahkan kaki kembali ke mobil. Apakah sudah diamankan polisi? Tidak mungkin, tidak ada pita kuning yang mengelilingi tempat kejadian. Pasti orang lain yang melakukannya tapi siapa.
Handphoneku berbunyi ketika aku sudah duduk di dalam mobil. Dari Nyonya Elena
“Bud, kamu ada dimana?” tanyanya dengan suara khawatir.
“Tadi aku terpikir sesuatu, Nyonya. Jadi aku pergi meninggalkan Nyonya dan memanggil Bi Surti untuk menemani,” bohongku. Aku memutuskan untuk tidak mengatakan kemana aku pergi dan menghilangnya mayat Bambang. Sebelum Nyonya Elena bertanya lebih jauh, aku langsung bertanya lagi.
“Bi Surti mana, Nyonya?” tanyaku.
“Aku sudah suruh dia kembali ke kamarnya. Aku sengaja nyuruh dia ke kamarnya, biar tidak ada yang ganggu kita. Kamu cepat pulang, Bud. Aku lagi sendirian di kamar nih, nunggu kamu,” suaranya terdengar menggoda. Aku tersenyum. Mengingat kejadian pergumulan kami tadi. Penisku mengeras.
“Iya Nyonya, aku segera pulang,” ujarku membenarkan posisi penisku.
“Jangan pake lama ya, Bud,” Nyonya Elena tertawa di ujung sana.
Begitu aku hendak menghidupkan mobil. Handphoneku berbunyi lagi. Bukan dari Nyonya Elena. Dari Bibim, kepala security kantornya Nyonya Elena.
“Iya, Pak Bibim?” kenapa dia menelponku malam-malam begini.
“Pak Budi, bisa ke kantor sebentar. Kami baru saja menangkap seseorang yang mencurigakan,” terdengar suara tegas Bibim.
“Ok, aku segera kesana!” aku langsung tancap gas ke kantor Nyonya Elena. Apalagi yang terjadi sekarang?
“Kami tangkap dia lagi mengendap-ngendap depan pintu, Pak,” ujar Pak Bibim begitu aku sampai di kantor Nyonya Elena.
“Mau ngapain dia malam-malam?” tanyaku.
“Kami menemukan ini, Pak,” Pak Bibim menyerahkan selembar amplop. Kubuka amplopnya dan kubaca isinya
“YOU ARE MINE. I AM GONNA KILL BOTH OF YOU”
Huruf-hurufnya diambil dari guntingan koran dan majalah. Ternyata dia pengirim surat kaleng selama ini. Akhirnya tertangkap juga. Aku melihat orangnya dari balik kaca pintu. Pria berkacamata tebal, kurus. Rambut keriting. Berumur sekitar 20 tahunan.
“Sudah diinterogasi, Pak?” tanyaku sambil menatap Pak Bibim.
“Belum, Pak. Baru kami borgol di meja. Kami nunggu bapak datang,” jawab Pak Bibim.
“Coba interogasi, Pak!” perintahku. Aku tetap menunggu diluar sambil memperhatikan apa yang dilakukan Pak Bibim.
Aku bisa mendengar percakapan mereka dari luar. Namanya Ivan. Seorang fans Nyonya Elena ternyata. Dia mengaku setelah ditanyai dengan galak oleh Bibim. Memang pantas Pak Bibim jadi kepala security disini. Tampang berkumisnya cukup menakutkan. Ivan menjawab dengan suara gemetar. Dia cemburu karena dimana-mana terpampang foto Nyonya Elena dengan Brian. Di surat kabar, majalah dan internet. Tadinya dia mengirimkan surat kaleng dengan melemparkannya ke rumah Nyonya Elena, tapi karena dia gusar dengan gencarnya berita kemesraan Nyonya Elena dan Brian, dia nekat ingin masuk ke kantor Nyonya Elena untuk menyelipkan surat kalengnya disana. Aku sempat tertawa kecil. Aku juga dibikin gusar oleh kemesraan Nyonya Elena dan Brian. Tapi mengingat percintaan kami tadi, hilanglah rasa marah dan cemburuku selama ini. Ternyata dia sudah mengirim 3 surat kaleng selama ini, termasuk yang sekarang ada di tangan Pak Bibim.
Tiga? Aku teringat surat kaleng yang aku simpan. Aku tertegun.
Aku langsung membuka pintu. Aku berjalan mendekati Ivan.
“Jangan bohong kamu. Berapa surat kaleng yang sudah kamu bikin?” Aku menatapnya galak.
“Tiga, pak. Sama yang itu,” sambil menunjuk surat yang dipegang oleh Bibim.
“Jangan bohong,” aku menarik kerah bajunya.
“Saya ga bohong,Pak,” jawabnya ketakutan. Aku menatapnya dalam-dalam. Dia tidak berbohong.
Jadi siapa yang ngirim surat kaleng yang satunya. Perasaanku jadi tidak enak.
“Pak Bibim, tolong urus dia. Bawa ke kantor polisi aja. Aku harus pulang sekarang,” ujarku cepat. Entah kenapa aku ingin cepat pulang ke rumah Nyonya Elena. Aku berlari ke mobil. Ingin aku menelpon Nyonya Elena, tapi takutnya dia sedang tidur karena kelelahan. Lagipula ini baru firasatku. Belum tentu ada kejadian yang tidak diinginkan.
Aku mengebutkan mobil ke rumah Nyonya Elena. Sesampai disana, tidak terlihat sesuatu yang mencurigakan. Mungkin firasatku salah. Aku sedikit tenang. Pintu depan terkunci. Aku masuk lewat garasi. Ruangan belakang gelap. Keliatannya Bi Surti sudah tertidur lelap lagi. Perasaan tidak enakku muncul lagi. Pelan-pelan aku masuk ke kamar bekas Bambang. Aku mengambil pisau besarnya dan kuselipkan di ikat pinggang bagian belakangku. Tidak akan terlihat karena aku memakai jaket. Untuk berjaga-jaga dan apabila tidak ada apa-apa, Nyonya Elena tidak akan melihat pisau ini. Aku masuk ke dalam rumah. Gelap. Tampaknya Nyonya Elena memang sedang tidur. Aku bersyukur tadi tidak menelponnya. Pelan-pelan aku melangkahkan kakiku. Pintu kamarnya terbuka sepertiganya. Tidak biasanya. Mungkin memang tadi dia sengaja menungguku. Teringat ucapannya yang begitu menggoda di telepon tadi. Aku tersenyum kecil.
Aku ingin meyakinkan apakah Nyonya Elena benar-benar tertidur. Aku membuka pelan pintu. Ada sinar lampu yang tidak terlalu terang, dari ranjang Nyonya Elena tampaknya. Aku terkejut ketika melihat Nyonya Elena sedang duduk di sebuah kursi di dekat pintu. Aku tadi tidak melihatnya karena terhalang pintu. Mulutnya disumpal sebuah kain dan tubuhnya diikat di kursi. Baru kemudian aku melihat seorang pria sedang duduk di pojok ruangan dekat ranjang. Duduk di sebuah kursi. Aku merasa ceroboh sekali, aku tidak menyangka ada seseorang menungguku di pojok ruangan di sebelah kananku. Lampu ranjang yang hidup berada di sisi satunya,sehingga aku tidak bisa melihat jelas wajahnya. Tapi melihat bentuk tubuhnya, dia bukan Bambang. (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 19)
POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG


0 comments: