Bercinta Dengan Bodyguard Part 14


Nyonya Elena berdiri di depanku dengan memakai gaun rok pendek warna putih.  Memakai kacamata hitam dan topi bertepi lebar.  Aku mendekatinya.  Lalu tiba-tiba dia berubah sosok menjadi seorang pria tua.  Sebelum kekagetanku pulih, kini pria tua itu berubah menjadi sosok Sally, lalu sekejap berubah lagi menjadi sosok Bambang.  Bi Surti.  Dan terus menerus berubah wujud menjadi sosok-sosok yang tidak kukenal.  Lalu aku pun terbangun.  Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Apakah tadi aku bermimpi atau sebagian wajah-wajah yang tadi kulihat adalah orang-orang yang pernah aku kenal.

Aku menggosok-gosok wajahku dengan kedua tanganku.  Kepalaku masih terasa pusing sedikit.  Aku mencoba bangkit dari ranjangku.  Aku melangkah keluar kamarku.  Ada seseorang sedang duduk di kursi panjang di pinggir kolam.  Hatiku langsung senang sesaat.  Aku pikir itu Nyonya Elena tapi ternyata itu Sally.  Teringat betapa sikap Sally agak judes padaku tadi.  Aku pikir aku harus meluruskan hal ini juga.  Dengan langkah tidak terburu-buru, aku menghampiri Sally yang sedang memegang lututnya yang tertekuk ke atas.  Tampaknya dia tidak menyadari kedatanganku.  Baguslah.  Jadi dia akan sulit menghindar dariku apabila dia tidak mengetahui kedatanganku.  Atau mungkin dia sengaja tidak ingin melihatku.

Ketika aku sudah tiba di dekatnya.  Sally hanya menoleh sekilas padaku, lalu kembali menatap air kolam renang.  Hmm, paling tidak dia tidak melotot menatap tajam padaku.  Sebuah perkembangan yang baik, pikirku.  Aku memberanikan diri untuk duduk di dekatnya di kursi panjang itu.  Sally tidak bergeser menjauh dariku.  Cukup bagus situasinya.  Aku tahu aku salah, aku harus minta maaf padanya.

“Sal, aku...,” sebelum aku menyelesaikan kata-kataku.  Sally sudah menoleh ke kanan menatapku.

“Kamu suka ama Lena ya?” tembaknya langsung, dia menatapku tajam tapi dengan lebar mata normal tidak melotot.

“Aku...,” ditanya seperti itu jelas membuatku kaget dan bingung harus menjawab jujur atau bohong.

“Aku...,” kembali aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku...aku...amnesia loe tambah parah ya? Jawab gitu aja susah amat,” kembali terdengar suara ketus Sally.

“Aku....,” kembali aku terhenti untuk meneruskan kalimatku.

“Udahlah ga usah dijawab.  Bikin bete aja,” sambil Sally kembali menatap air kolam.

“Pacarmu lagi berduaan tuh ama si ganteng di kamar,” entah apa maksudnya mengatakan itu padaku.

Mendengar itu, kini kata “aku” pun tidak sanggup kuucapkan.  Aku terdiam.  Jelas hatiku panas.  Tapi mengingat siapa diriku dan bagaimana ganteng dan atletisnya si keparat itu, mungkin sudah sewajarnya wanita secantik Nyonya Elena bersama si kampret itu.  Mana dia seorang aktor, jelas aku bukan tandingannya.  Lagipula aku tidak tahu siapa diriku.

Setelah aku berhasil mengendalikan diri.  Aku tetap memutuskan untuk minta maaf pada Sally, paling tidak aku harus mengurangi jumlah wanita yang bersikap dingin padaku.

“Sal, aku mau...minta maaf,” akhirnya keluarlah kata-kata itu dari mulutku.

“Minta maaf untuk apa?” ujar Sally.  Dia tidak tahu atau ingin memancingku saja.

“Egh, soal...tentang...kejadian waktu itu,” aku terbata-bata menjelaskan.  Masa aku harus bilang aku minta maaf tentang janji ke kamarnya.

“Kejadian yang mana?” tanya Sally lagi.  Tatapannya tawar padaku.

Haruskah aku mengatakan apa adanya.  Aku ragu.  Tapi mengingat lagi, tujuanku ingin mengurangi jumlah wanita yang membenciku.  Aku menguatkan hati.

“Tentang..kejadian aku tidak jadi ke kamarmu,”  aku agak lega setelah mengucapkan hal itu.

“Kenapa kamu tidak ke kamarku waktu itu?” suaranya terdengar melunak.  Tatapan Sally pun terlihat lebih hangat sedikit.

Aku tidak mungkin menjawab dengan aku menemukan surat kaleng.  Sakit kepalaku kambuh.  Atau aku cemburu dengan Nyonya Elena dan si brengsek itu.

“Aku ketiduran, Sal,” bohongku.  Mungkin dia akan percaya karena waktu itu tampangku agak kusut abis hilang kesadaran karena sakit kepalaku.

Tampaknya dia percaya.  Sebentuk senyuman kecil menghiasi bibirnya yang sensual namun seketika langsung cemberut lagi.

“Aku maafin, kalo kamu bercinta denganku disini, sekarang!” ujarnya kembali ketus.

Hah!!! Bercinta disini.  Bagaimana kalo Nyonya Elena lihat?  Tapi teringat olehku perkataan Sally tadi bahwa Nyonya Elena lagi berduaan dengan bajingan itu di kamar.  Entah apa yang sedang mereka lakukan.  Dadaku kembali panas.  Aku menatap Sally.  Dia menatapku, menunggu jawabanku.

“Harus di sini yah?” kacau!! Kok malah kata-kata itu yang keluar dari mulutku.

Sally seperti berusaha menyembunyian senyumnya, “Iya. Harus disini, baru aku maafkan!”

Melihat aku ragu-ragu dan sepertinya tidak berniat menolak.  Sally langsung mendekatiku dan mencium bibirku.  Dilumatnya bibirku sambil tangannya yang halus menyusup masuk kaosku dan mengelus perut dan dadaku.  Hatiku yang panas menjadi lebih panas membayangkan apa yang sedang dilakukan Nyonya Elena berdua di kamar.  Sally mencubit pelan puting kananku.  Penisku berdiri.  Lidah Sally kini menyusup masuk ke dalam mulutku.  Bergerak-gerak liar menggesek lidahku.  Terbayang wajah Nyonya Elena yang lagi mencium bibir si kampret itu, aku pun mulai membalas pagutan lidah Sally dengan lidahku. 

Penisku semakin tegang.  Entah siapa yang menyuruh, aku mengangkat kedua tanganku secara otomatis ketika Sally memegang tepi bawah kaosku dan mengangkat kaosku ke atas melewati kedua tanganku dan melemparnya ke bawah kursi.  Sally mendorongku bersandar di sandaran kursi panjang.  Sally duduk di atas selanganganku.  Kimono yang dipakai Sally sudah turun sampai dada.  Payudaranya yang montok dan bulat terlihat begitu membusung di cahaya remang-remang tepi kolam.  Dituntunnya kedua tanganku untuk memegang payudaranya.  Begitu lembut dan kenyal.

“Remas yang keras, sayang,” desahnya.  Aku menurutinya.  Aku meremas kedua payudara bulat Sally.  Payudaranya memang terlalu besar untuk ukuran tanganku.  Tanganku tidak bisa meremas semuanya.  Dituntunnya kembali tanganku untuk meremas payudaranya lebih kuat.  Sally mendesah semakin kuat.  Aku khawatir akan ada yang mendengar desahannya.  Bukan Bi Surti yang pasti, karena aku tahu kalo beliau sudah tidur, tidak ada apapun yang bisa membangunkannya.  Aku khawatir Nyonya Elena akan mendengar suara desahan Sally.  Tidak mungkin, toh mungkin saja dia sendiri lagi bermesraan dengan si bajingan ganteng itu.  Membayangkan hal itu, aku semakin meremas kedua payudara Sally.

Bukannya kesakitan, tapi punggung Sally malah melengkung kenikmatan menikmati remasan kuatku.

Sally jelas sudah kerangsang berat.  Nih cewe kayaknya memang hypersex.  Sally menurunkan badannya, kembali menciumku dengan liar.  Payudaranya yang montok menempel ketat pada dadaku.  Terasa sangat hangat.  Putingnya terasa sudah mengeras menyentuh kulit dadaku.  Penisku semakin membesar.  Tangannya mengacak-acak rambutku.  Ketika bibir Sally yang basah menempel pada telinga kiriku.  Bibirnya menjepit daun telingaku.  Lidahnya menjilati bagian dalam telingaku.  Basah dan hangat.  Membuat penisku semakin menekan selangkangannya.  Sally mungkin merasakan tekanan penisku pada tubuhnya.  Dia merintih begitu dekat di telingaku.  Rintihannya membuat nafsuku semakin tinggi.  Kuremas bongkahan pantatnya yang masih terbungkus kimononya.  Kuremas keras.  Sekali lagi bayangan Nyonya Elena dengan tubuh bugilnya lagi menempel erat dengan tubuh bugil jahanam itu.  Semakin membuatku bernafsu meremas dan menampar lembut bongkahan pantat Sally.

“Uggh sayang, ternyata kamu ganas juga,” rintihnya sambil menggigit daun telinga bawahku dan menggoyangkan pinggulnya menekan penisku.  Giliran aku yang kini merintih pelan menikmati goyangan pinggulnya.  Kimono Sally sudah acak-acak tidak karuan.  Pahanya sudah terekspos, kimononya hanya menutupi sebagian kecil pantatnya.  Bulu-bulu halus vaginanya terlihat samar-samar di cahaya remang-remang pinggir kolam.  Sekali tarik oleh Sally, lepas sudah kimononya melorot jatuh dari pinggir kursi panjang tempat kami terbaring.  Dengan tubuhnya yang kini telanjang bulat, Sally tiba-tiba turun dari kursi dan bersimpuh di pinggir kursi.  Menarik paksa celana pendekku lepas dari tempatnya.  Penisku mencuat berdiri dengan gagahnya.  Mata Sally terlihat kagum melihat betapa perkasanya penisku.

“Gila Bud, kontol loe emang benar-bener gede,” Sally menjilati bibir bawahnya dengan lidahnya.  Langsung mulutnya menyambar pangkal penisku.  Diciumnya dan ditelusuri batang penisku sampai puncaknya dengan kedua bibirnya yang sensual.  Aku menggelinjang, menikmati bibir hangat Sally yang menggesek penisku.  Lalu bibirnya kembali menyusuri batang penisku sampai ke pangkalnya.  Lalu Sally tiba-tiba menjilati buah zakarku dan menyedot salah satu buah zakarku.  Membuat aku ngilu tapi aku mengeluarkan desahan yang sedikit lebih keras.  Mendengar desahanku ternyata membuat Sally semakin bernafsu memainkan satu biji pelerku.  Disedotnya dengan mengeluarkan bunyi sambil tangan kirinya mengocok penisku.  Gila liar banget nih cewek.  Birahiku sudah di ubun-ubun.  Terbayang kembali Nyonya Elena sedang mengisap penis cowo kampret itu. Membuat aku semakin menikmati rangsangan Sally.  Kini giliran buah zakarku yang satunya lagi disedotnya.  Kini tangan kanan Sally menyusup ke bawah buah zakarku dan menyentuh belahan pantatku dan lubang anusnya.  Jari lentiknya menekan-nekan titik-titik dekat lubang anusku.  Membuat aku melebarkan kakiku dan mengangkat pinggulku berharap jari Sally lebih menekan titik-titik kenikmatan di daerah situ.

Sally seakan-akan tahu keinginanku.  Jari telunjuknya menyusuri belahan pantatku, menggesek-gesek lembut membuat aku semakin menggeliat nikmat.  Ditambah kini Sally memasukkan kepala penisku ke dalam mulutnya.  Kedua bibirnya menjepit lembut kepala penisku, pelan-pelan turun ke bawah.  Bibirnya masih menjepit kepala penisku hingga semuanya masuk ke dalam mulut seksinya.  Tidak sampai situ saja, kini Sally berusaha terus menurunkan mulutnya agar kini batang kemaluanku berada di dalam mulutnya yang basah dan hangat.  Namun akhirnya Sally terlihat agak sulit untuk turun lebih jauh karena ujung penisku seperti sudah mentok dalam lubang mulutnya.  Masih tersisa beberapa senti batang kemaluanku yang berada diluar mulutnya.  Sally tampaknya ingin turun lebih jauh tapi akhirnya seperti kehabisan napas, Sally melepaskan penisku dari mulutnya.  Nafasnya terengah-engah tapi wajahnya terlihat lebih horny.

“Gila Bud, Kontol loe bener-bener panjang. Baru kali ini gua ga berhasil deepthroat kontol cowo,”  air liur menetes dari tepi bibirnya membasahi dagunya.  Wajahnya terlihat sangat seksi saat ini.  Aku sudah lupa dengan Nyonya Elena.  Sekali lagi Sally berusaha men-deepthroat penisku.  Namun tetap tidak berhasil masuk semuanya dalam mulutnya.  Batang penisku sudah basah oleh air ludahnya ketika Sally mencoba beberapa kali lagi.  Gila, aku merasakan penisku benar-benar ngilu nikmat diperlakukan dengan liar oleh Sally.

“Gila Bud, loe bikin gua benar-benar horny ama kontol loe.  Memek gua udah basah banget nih.  Masukin ke memek gua kontol loe, Bud,” tanpa tunggu sedetikpun lewat, Sally langsung saja berjongkok di atas selangkanganku.  Dipegangnya penisku dan pelan-pelan dia masukkan ke dalam vaginanya.  Memang benar, terasa licin vaginanya ketika kepala penisku menembus masuk.  Cepat sekali kepala penisku sudah berada dalam vaginanya yang basah oleh cairannya.  Sally melenguh ketika pelan-pelan dia menurunkan pinggulnya sehingga batang penisku lebih masuk lagi ke dalam vaginanya.  Aku merasakan jepitan otot vaginanya pada penisku.  Membuat urat-urat penisku menjadi lebih tegang.  Semakin masuk ke dalam dan akhirnya ternyata penisku bisa masuk semua ke dalam vagina Sally.

“Aaaah, Bud. Kontol loe benar-bener mentok dalam memek gua.  Benar-benar kontol besar,” Dengan masuknya semua penisku dalam vaginanya, kini Sally mulai menggoyang-goyang pinggulnya memutar, maju mundur.  Aku pun menikmati goyangan pinggulnya, kurasakan ujung penisku menyentuh dinding rahimnya yang paling dalam.  Benar-benar nikmat.  Payudara Sally bergoyang-goyang mengikuti gerakan irama tubuhnya.  Punggung Sally melengkung beberapa kali ketika dia menekan dalam selangkangan pada penisku.  Desahannya semakin besar terdengar.  Mungkin seperti yang dia bilang, ini adalah penis terpanjang yang pernah masuk vaginanya.  Dan hal ini membuat Sally cepat merasakan orgasmenya karena tak lama kemudian paha Sally menjepit pahaku keras-keras.  Gerakan pinggulnya semakin cepat.  Wajahnya mendongak ke atas, punggungnya melengkung dan mengejang.  Dan keluarlah jeritan orgasme yang terdengar sangat nikmat.

Kurasakan penisku seperti tersiram cairan hangat dalam vagina Sally.  Namun entah kenapa aku belum mencapai orgasme seperti kemaren-kemaren.  Mungkin karena bisa dibilang ini bukan pertama kalinya aku “bermain” dengan Sally.  Jadi ketahanan penisku semakin terlatih, tidak cepat mencapai klimaks.  Sally terbaring lemas di dadaku.  Keringat di payudaranya menempel lengket pada dadaku.

“Loe belum mau keluar, Bud?” tanya Sally terengah-engah.

“Belum, Sal,” aku kini berusaha menyodok vagina Sally.

“Perkasa benar, Bud.”  Sally tampaknya kembali terangsang menerima sodokan demi sodokan yang dilakukan penisku pada vaginanya.  Namun

Sally tiba-tiba bangkit dan terlepaslah penisku dari vaginanya.  Aku merasakan penisku yang tersiram cairan vagina Sally, dingin kena udara malam.

“Bud berdiri.  Gua pengen disodok ama loe dari belakang,”  aku berdiri dari kursi panjang mengikuti perintahnya.  Kini Sally bertumpu pada kedua tangan dan kedua lututnya, menggoyang-goyangkan pinggulnya seperti anjing.

“Ayo Bud, cepatan sodok gua dari belakang!” nafasnya mulai memburu lagi.  Benar-benar maniak seks.

Aku menghampirinya.  Memegang penisku yang masih mengacung tegak dan mulai menusuk vaginanya dari belakang.  Vaginanya masih licin, bahkan terasa lebih licin.  Mungkin berkat cairan orgasmenya tadi.  Aku mulai menggerakkan penisku maju mundur dalam vaginanya.  Bahkan seringkali aku menghujamkan penisku dalam-dalam karena aku ingin merasakan nikmatnya ujung penisku menyentuh dinding rahimnya yang dalam.  Setiap kali aku menghentakkan penisku dalam-dalam.  Rintihan Sally semakin panjang terdengar dan semakin keras.   Membuat aku semakin bernafsu memompa vaginanya.  Mungkin capek karena bertumpu dengan tangannya.  Kini Sally bertahan dengan kedua lututnya dan punggungnya bersandar di dadaku. Keringat kami saling menempel.  Kepala Sally menoleh ke kiri.  Berusaha mencium bibirku.  Aku memajukan kepalaku, melumat bibirnya tanpa mengendorkan pompaanku pada vaginanya.  Tanpa diperintah oleh Sally kini aku meremas kedua payudaranya dari belakang.  Hal ini membuat Sally semakin menggelinjang menikmati berbagai rangsangan dariku.

Akhirnya aku merasakan dorongan pada ujung penisku.  Ada sesuatu yang mau keluar, tapi sebelum aku mengeluarkan dorongan itu.  Ternyata Sally sudah duluan orgasme lagi.  Kedua tangannya menekan tanganku agar meremas lebih kuat payudaranya.  Giginya menggigit bibir bawahku dan punggungnya menegang dan muncratlah lagi cairannya membasahi penisku.  Namun hal ini semakin mempercepat dorongan sperma pada ujung penisku.

“Sal, aku mau keluar,” erangku.

Buru-buru Sally menarik vaginanya melepas penisku dan cepat-cepat duduk dikursi menghadapku dan memasukkan penisku dalam mulutnya.  Tangan Sally mengocok pangkal batang penisku.  Kepala penisku dihisapnya kuat.  Dan akhirnya muncratlah spermaku dalam mulutnya.  Sekali...dua kali...tiga kali dan melemah semprotannya beberapa kali lagi.  Kakiku mengejang berusaha menyemprot spermaku yang terakhir kali.  Kutatap Sally yang sedang menatapku.  Aku tersenyum hangat.  Sally berusaha tersenyum dengan matanya karena mulutnya penuh dengan spermaku.  Kurasakan hisapan Sally pada lubang pipisku, berusaha menghisap dan membersihkan sisa-sisa spermaku.  Lalu dilepaskan mulutnya dari penisku, membuka mulutnya, membiarkan aku melihat cairan lengket warna putih dalam mulutnya, sebelum akhirnya dia menelan semuanya.  Benar-benar pengalaman seks yang luar biasa.  Aku terduduk lemas di kursi.  Merebahkan diri disana.  Sally pun bersandar di dadaku.

“Bud, kamu benar-benar luar biasa,” Sally mencium putingku (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 15)

POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG
Next
Previous