Bercinta Dengan Bodyguard Part 15


Mungkin aku mengambil keputusan yang salah, bercinta dengan Sally.  Aku kalah oleh rayuannya.  Mungkin bukan kalah oleh rayuannya, tapi hatiku lemah karena melihat perlakuan Nyonya Elena padaku sehingga aku melampiaskannya pada Sally.  Aku membenci diriku karena itu.  Namun apa daya, menemani, tepatnya melindungi Nyonya Elena kemana-mana beberapa hari terakhir ini karena kesibukannya mempromosikan film terbarunya bersama Brian.  Dengan adanya Sally justru membuat aku bisa meredam rasa cemburuku.  Dan bisa mengalihkan sedikit perhatianku dari Nyonya Elena.  Memang hasilnya luar biasa, filmnya belum memasuki tahap syuting pun, tapi hype nya sudah meluas.  Berita tentang mereka berdua bertebaran di acara infotainment, majalah dan media sosial.

Melihat kemesraan mereka berdua terpampang di hadapanku, membuat aku semakin melampiaskannya pada Sally.  Lagipula Sally begitu binal dan hyper, selalu mengajakku bercinta di manapun dan setiap saat begitu ada kesempatan.  Bahkan dia pernah mengoral penisku di toilet Pizza Hut dan membiarkan sedikit spermaku meleleh di ujung bibirnya ketika dia keluar dari toilet sampai menuju mobil, membuat aku bernafsu untuk bercinta dengannya malam itu sampai dia meraih orgasme tiga kali.  Tapi ya itu, aku  menyadari aku tidak mencintai Sally.  Hatiku sudah terpaku pada Nyonya Elena, tapi apa daya semakin hari sikap dan perlakuan Nyonya Elena tidak menjadi semakin baik, malah semakin dingin padaku.  Sekali lagi untung ada Sally yang menghangatkan tubuhku.  Lagipula mungkin Sally mengetahui bahwa aku ada perasaan pada Nyonya Elena karena beberapa kali tanpa aku sadari, ketika aku mencapai klimaks, aku menyebutkan nama Nyonya Elena tapi tampaknya Sally tidak peduli tentang hal itu.  Yang penting untuknya aku hadir ketika dia menginginkan sex.  I am her sex machine.

Makanya begitu hari ini tidak ada Sally di sampingku, aku merasa sangat merana sekali.  Semalam Sally pulang ke Jakarta, katanya ayahnya masuk rumah sakit.  Aku menawarkan diri mengantarnya tapi dia menolaknya.  Dia bilang Nyonya Elena lebih membutuhkan kehadiranku.  Aku sebenarnya sangsi mengingat betapa aku bagaikan tidak ada di hadapannya. Di hadapan mereka berdua tepatnya.  Bahkan pertanyaan yang sering diajukannya “apakah aku sudah ingat?” tidak pernah Nyonya Elena menanyakannya lagi padaku.

Sepanjang hari mengantarkan mereka kemana-mana, kalo kepalaku bisa mengepulkan asap, mungkin mobil ini sudah penuh dengan asap cemburu.  Hiburanku hanyalah pesan WA dari Sally yang penuh kata-kata nakal menggoda dan bahkan dia mengirimkan aku foto-foto seksinya dari kamar rumah sakit.  Ya ampun, bisa-bisanya nih cewek, pikirku.  Tapi aku terima kasih padanya, bisa sedikit menghiburku.

Sekarang aku sedang menunggu di mobil, di tempat parkiran sebuah cafe dimana Nyonya Elena dan si kampret itu lagi makan malam.  Nyonya Elena bilang tidak akan lama mereka di situ.  Paling kira-kira satu jam.  Aku disuruhnya tunggu di mobil, tidak perlu menemani mereka berdua di dalam.  Yeah, mungkin aku memang lebih baik tidak melihat kemesraan mereka berdua.  Satu jam ini terasa lama karena tampaknya Sally pun sedang tidur karena tidak ada pesan WA dari dia.  Aku melirik jam mobil.  Sudah lebih dari satu jam 10 menit. 

Apakah mereka sedang asyik-asyikan disana sehingga lupa waktu.  Aku baru memperhatikan area parkir, tampaknya mobil yang terparkir terlihat lebih sedikit.  Tapi biasanya Nyonya Elena sangat memperhatikan waktu.  Apabila dia bilang satu jam, biasanya paling telat 5 menit.  Mungkin aku tunggu lima menit lagi, kalo belum kembali aku akan mencoba melihat ke dalam cafe.  Tapi melihat kondisi cafe, tidak mungkin akan terjadi hal-hal yang buruk.  Tiba-tiba firasatku tidak enak.  Aku melihat jam mobil menunggu jam menunjukkan pukul 20:55, lima menit dari yang aku mau tunggu tadi.  Namun menunggu demikian terasa lama dan perasaanku semakin tidak enak.  Pukul 20:54, aku tidak tahan, aku langsung turun dari mobil dan menuju cafe.  Di dekat pintu masuk, aku melirik ke dalam. 

Mencari ke segala arah yang terlihat olehku.  Tidak terlihat sosok Nyonya Elena dan jahanam itu.  Aku semakin merasa tidak enak.  Pelan-pelan aku masuk ke dalam.  Kini pandanganku lebih leluasa, namun aku khawatir juga apabila ternyata Nyonya Elena melihatku masuk tanpa seijinnya, mungkin dia akan marah padaku.   What the hell!! Toh dia juga sudah bersikap dingin padaku.  Aku kembali memperhatikan sekeliling, mereka berdua tidak terlihat.  Aku melihat ke luar cafe.  Tidak ada seorang pun yang nampak, tidak ada mobil yang keluar dari area parkir.  Suasana cafe masih cukup ramai tapi masing-masing sibuk dengan kegiatannya sendiri.  Suasana cukup meriah karena ada performance musik live dari seorang wanita di panggung dengan iringan piano.  Aku dengan cepat memperhatikan semuanya.  Tidak ada yang terlihat mencurigakan.

Perlahan-lahan agar tidak terlihat mencurigakan, aku melangkah ke belakang ke arah tulisan restroom.  Aku memasuki pintu yang bersimbol pria.  Ruangannya cukup mewah dan besar.  Semua pintu terbuka karena tidak ada seorang pun disana.  Lalu aku keluar, sedikit ragu-ragu untuk memasuki pintu satu lagi yang bersimbol perempuan.  Tapi kekhawatiranku lebih besar,  aku buka pintu perlahan-lahan, siapa tau ada orang disana, aku tidak mau disangka pervert.  Tidak ada seorangpun yang terlihat.  Tapi aku mendengar ada bunyi-bunyi yang sedikit aneh.

Aku membuka pintu pelan-pelan agar tidak terdengar.  Ya, aku melihat pintu diujung paling dalam tertutup.  Dengan langkah pelan, aku mendekati pintu tersebut.  Entah suara langkahku terdengar atau tidak, tapi yang jelas suara-suara aneh terdengar lebih jelas.  Kemudian terdengar rintihan seperti tertahan seorang wanita ketika aku mendekatkan telingaku ke daun pintu.  Apakah itu rintihan Nyonya Elena?  Lalu terdengar seperti suara kain yang bergesekan.  Apakah si keparat itu ada di dalam juga?  Mereka sedang bercinta?  Gila di tempat umum, di toilet sebuah cafe.  Aku tidak rela.  Tiba-tiba aku darahku mendidih.  Perasaan sangat marah merasukiku.  Kutendang pintu itu kuat-kuat di dekat kunci penutupnya.  Pintu pun terbuka dengan keras.  Kulihat seorang pria duduk di closet.  Brian keparat dan seorang wanita berambut panjang yang sedang duduk dipangkuannya dengan pakaian atasnya sudah terbuka.  Menoleh kaget ke arahku.  Wajahnya sangat cantik sekali. Lebih cantik dari Nyonya Elena.  Melihat seragamnya, aku yakin dia adalah waitress di cafe ini.  Aku lega sesaat. Ternyata itu bukan Nyonya Elena.  Tapi kemudian aku langsung khawatir lagi.  Dimana Nyonya Elena?

Aku segera berlari meninggalkan keparat itu yang terlihat shock ketika pintu kutendang tadi.  Aku keluar dari restroom wanita.  Kebetulan ada seorang waiter yang sedang membawa nampan keluar dari sebuah ruangan.

“Mas liat seorang wanita cantik berpakaian gaun panjang berwarna merah tua?” tanyaku padanya.

“Oh yang artis itu yah, Mas?” jawabnya.

“Iya betul,” kataku cepat-cepat.

“Aku tadi liat ke dapur sih, Mas,” jawabnya sambil kemudian berjalan meninggalkanku.

Ngapain Nyonya Elena ke dapur?  Aku bergegas ke dapur.  Aroma masakan sangat menyengat.  Aku memperhatikan semua berpakaian putih.  Ciri khas koki.  Tidak ada bayangan Nyonya Elena.  Lalu aku melihat sebuah pintu kecil di ujung belakang.  Pelan-pelan aku menuju ke sana.  Tampaknya seperti tempat pembuangan, sangat kotor.  Tidak ada seorang pun disini.  Ada pintu yang terbuka.  Diluar sana   agak sedikit remang-remang.  Firasatku semakin tidak enak.  Suara kelontang di dapur terdengar.  Dengan sangat hati-hati, aku mendekati pintu terbuka itu.  Seperti ada suara orang berbicara.  Aku berhenti di tembok dekat pintu terbuka itu.  Aku mencoba mengintip pelan-pelan.  Terlihat olehku sesosok tubuh besar sedang berjaga dekat diluar pintu terbuka itu.  Aku cepat-cepat berlindung lagi, untung sosok itu tidak sedang melihat ke arah dalam sehingga dia tidak melihatku mengintip tadi.  Kemudian terdengar suara wanita menjerit pelan, lalu suara pakaian sobek.  Itu suara Nyonya Elena.  Lalu terdengar suara pria berat.  Itu suara Bambang. (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 16)

POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG

Next
Previous