Bercinta Dengan Bodyguard Part 10


Wajah Nyonya Elena terlihat cerah.  Wajahnya penuh senyum.  Sekilas aku melihat tatapannya padaku dari kaca spion.

“Lho kok loe duduk di depan, Sal?” tanyanya heran. “Bambang ga ikut jemput?”

Sally mencium pipiku kemudian dia melangkahkan kaki melewati celah diantara kursi depan, pindah ke belakang, duduk di sebelah Nyonya Elena.  Aku kaget dicium tiba-tiba oleh Sally.  Sekali lagi aku melihat tatapan Nyonya Elena di kaca spion.  Tatapan heran.

Tidak lama kemudian Sally menceritakan apa yang terjadi.  Kulihat Nyonya Elena memperhatikan dengan seksama cerita Sally.  Sally begitu memuja-muja aku.  Setelah Sally selesai bercerita, Nyonya Elena kembali menatapku dari kaca spion.

“Bud, kamu uda inget siapa kamu?” tanyanya dengan pandangan yang tidak bisa kupahami artinya.

“Belum Nyonya,” jawabku singkat.  Spermaku sebagian tampaknya sudah kering.  Membuat bulu jembutku menempel dan terasa gatal di selangkangan.

“Kok kamu bisa ngalahin Bambang, kan badannya kekar, lebih gede dari kamu,” kembali Nyonya Elena melanjutkan.  Tatapannya masih terasa aneh bagiku.

“Mungkin hanya insting aja Nyonya karena melihat Sally disakiti,” mungkin Nyonya Elena menyadari aku tidak memanggil Nona lagi pada Sally.

Kembali Sally memuji-muji aku, Sally mencondongkan badan ke depan dan mengusap-usap rambut belakangku.  Apa-apaan nih si Sally, makiku.  Aku tidak ingin Nyonya Elena berpikir yang macam-macam tentang kami berdua.  Perubahan sikap Sally yang tadinya ketus, membenciku, berubah 180 derajat.  Teringat kembali kejadian yang baru kami alami.  Aku merasa jengah sendiri.  Aku membetulkan lagi posisi dudukku.  Mudah-mudahan bau spermaku tidak tercium sampai ke belakang.

“Tapi menurut cerita Sally, gerakanmu luar biasa cepat dan mematikan,” lanjut Nyonya Elena lagi.

“Ga tau juga, Nyonya.  Refleks aku yang membuat aku bisa begitu,” aku memperhatikannya dari kaca spion.  Dari tatapannya, jelas dia sedang tidak menyukaiku.  Tangan Sally masih meremas-remas rambut belakangku.  Aku sulit menghindarinya.  Tidak mungkin aku menegurnya di depan Nyonya Elena.

“Aku coba telpon Bambang dulu,” Nyonya Elena mengambil handphone dari tasnya.

Aku memperhatikan jalan.  Sekali lagi mata kami bertemu di kaca spion sementara Nyonya Elena menunggu jawaban dari Bambang.  Rambutku masih diremas-remas oleh Sally.  Aku takut Nyonya Elena cemburu melihat Sally berlaku seperti itu padaku.  Cemburu?  Memang siapa aku sampai bisa membuat Nyonya Elena cemburu?

“Tidak ada jawaban,” Nyonya Elena berkata setelah beberapa kali mencoba menghubungi Bambang.

“Baguslah, ke laut aja tuh orang,” ujar Sally ketus.  “Kan uda ada Budi.” Sally maju ke depan mencium pipiku.   Lalu kembali duduk di samping Nyonya Elena.  Entah kenapa aku langsung menatap kaca spion.  Ingin tahu reaksi Nyonya Elena ketika Sally mencium pipiku lagi.  Nyonya Elena menatapku tajam.  Atau mungkin itu hanya perasaanku saja.  Untung kemudian Sally ngobrol asik dengan Nyonya Elena.  Aku bisa fokus menyetir.

Begitu kami tiba di rumah.  Nyonya  Elena langsung memanggil Bi Surti.

“Bambang ada ke sini ga?” tanyanya.

Bi Surti menggeleng.  Aku, Nyonya Elena dan Sally masuk ke kamar Bambang.  Masih tergeletak beberapa barang disana termasuk pisau milik Bambang di dekat ranjang.

“Mungkin dia ga akan ke sini lagi, malu tampaknya,” suara Sally terdengar senang.

“Jadi yang jagain gua siapa, Sal?” tanya Nyonya Elena kemudian.

“Kan ada Budi, toh Budi bisa ngalahin si Bambang yang badannya kekar,” ujar Sally. Tapi kenapa dia harus bergelayut manja di bahuku ketika berkata demikian.

Nyonya Elena menatap kami berdua bergantian.  Entah apa yang ada dalam pikirannya.

“Tapi kan Budi masih amnesia,” Nyonya Elena melanjutkan.

“Tapi meski amnesia, Budi keliatan jago banget semalam,” Sally tersenyum manja padaku sambil mencubit pinggangku.  Tidak sakit sebenarnya, hanya aku takut Nyonya Elena merasa aku berkhianat darinya.  Berkhianat? Budi, Budi pikiranmu semakin melantur.  Sally semakin merapatkan tubuhnya pada bahuku.  Payudaranya yang montok bergeser-geser di lenganku.  Aku baru ingat, aku belum membersihkan spermaku yang muncrat dalam celana tadi.  Aku minta ijin dari mereka berdua.  Sally enggan melepasku.  Namun akhirnya dia lepaskan lenganku juga ketika Nyonya  Elena memintanya menemaninya di kamar.  Mau diskusi katanya.

Aku merasa sedikit lega.  Dan aku tambah lega ketika aku sudah selesai mandi.  Lengket sekali tadi selangkanganku akibat semburan spermaku. Dasar cewek gila, pikirku akan Sally.  Tapi kenapa loe bisa orgasme, Bud?  Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Sore itu, Nyonya Elena memanggilku ke ruang makan. Dia mengajak aku makan bersama dengan Sally.  Sally yang tadinya duduk di sebelah Nyonya  Elena, begitu aku sudah mengambil tempat duduk, dia langsung pindah ke sebelahku.  Waduh, pikirku.

Sambil makan, Nyonya Elena bertanya lagi padaku

“Bud, masih belum ingat?” tanyanya sambil menatap mataku.

“Belum , Nyonya. Tapi sakit kepalaku sudah hilang,” jawabku sambil mengunyah makananku.  Sally yang duduk disebelahku sedang mengunyah juga.  Tapi tangannya mendarat di pahaku.  Mengelus-elusnya dengan ujung jarinya.  Tindakannya tidak dilihat Nyonya Elena karena kami duduk berseberangan.

“Tadi aku diskusi dengan Sally.  Dan aku sudah mencoba lagi menelpon Bambang, tetap tidak diangkat.  Untuk sementara ini, kamu mau ga jadi Bodyguard aku?” Nyonya Elena kembali menatapku ketika berkata seperti itu.

Aku tertegun mendengarnya.  Elusan jari Sally sudah mendekati pangkal selangkanganku.

“Bodyguard, Nyonya?  Aku tidak bisa, Nyonya.  Aku tidak punya kemampuan untuk itu.  Lagian nanti siapa yang nyupirin Nyonya?” Jari kelingking Sally mulai mengenai penisku.

“Kata Sally, kamu kayaknya ga kalah dari Bambang.  Mungkin dulunya kamu ada latar belakang bela diri, kata Sally.  Sementara aja Bud sampai ada pengganti Bambang.  Aku masih takut soal surat kaleng itu.  Kalo soal nyetir, kalo kamu ga keberatan.  Kamu tetap bisa jadi supir aku.  Bagaimana?” Nyonya Elena memperhatikan bolak balik aku dan Sally.

“Iya Bud. Terima aja.  Aku yakin kamu bisa,” Sally menatapku dengan tatapan memohon.  Kini jari-jarinya bergesekan dengan penisku yang mulai tegang.  Sialan nih cewek.

“Aku coba ya Nyonya,” begitulah jawabanku.  Sally terlihat senang sekali.  Nyonya Elena hanya tersenyum biasa sambil meneruskan makannya.

“Nanti aku beliin kamu smarphone, Bud.  Biar aku gampang ngontak kamunya,” ujar Nyonya Elena kemudian.

“Iya makasih, Nyonya,” jawabku.  Untung elusan tangan Sally tidak berlanjut.  Aku meneruskan makan.  Jadi Bodyguard? Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan Nyonya Elena.  Aku memang ingin selalu berada di sisinya, melindunginya.  Mungkin dengan cara begini, aku bisa lebih banyak waktu bersamanya.  Memikirkan hal itu, aku menjadi bahagia.  Aku senyum-senyum sendiri.

Malam pun, aku masih merasa bahagia ketika aku berbaring di kamarku.  Membayangkan aku akan lebih sering bersama Nyonya Elena.  Senyuman terbentuk terus di mulutku.  Sampai ketika pintu kamarku terbuka. Aku pikir Nyonya Elena yang masuk. Ternyata Sally.  Memakai kimono putih seperti yang biasa Nyonya Elena pakai di pagi hari.

“Ada apa Sal?” tanyaku heran.  Sally tidak menjawab pertanyaanku.  Dia membuka tali kimono dan ternyata dia tidak memakai apapun di baliknya.  Belahan payudaranya yang bulat terlihat jelas dengan puting coklatnya.  Lalu bulu-bulu halus yang terawat rapi menghiasi selangkangannya.  Aku terpana.  Tidak bisa mengatakan apapun.

Melihat aku terpana menatapnya, membuat Sally semakin berani.  Dia menurunkan kimononya ke lantai.  Kini berdiri didepanku seorang wanita dengan tubuh bahenol tanpa sehelai benangpun.

“Kamu suka tubuhku, Bud?” tanya Sally manja.  Aku masih tidak bisa mengucapkan apapun.  Hanya penisku yang bereaksi.

Dengan kerlingan nakal, Sally berjalan mendekatiku dengan tubuh telanjang.

Langsung mendorong tubuhku ke ranjang dan menindih tubuhku dengan duduk di atas selangkanganku.  Kedua tangannya menarik ujung kaos bawahku sehingga kini perut dan  dadaku terlihat.  Dengan ujung-ujung kukunya, Sally mengelus kulit dada dan perutku.

“Perutmu berotot juga, Bud,” ujar Sally dengan suara sedikit mendesah.  Kelihatannya wanita ini selalu horny.

“Hmm kontolmu sudah mau keluar tuh, Bud,” jari-jari Sally sudah menyelip masuk ke dalam karet pinggang celana pendekku.  Aku masih terpana melihat betapa membusungnya payudara Sally.  Sekali tarik, celana pendekku sudah terbuka sampai paha.  Sally berubah posisi, kini dia berlutut di samping kananku.  Sally terpana seperti aku, melihat penisku berdiri tegak dengan gagahnya.

“Ternyata benar dugaanku, Bud.  Kontol kamu besar banget.”  Matanya terlihat lapar menatap peniskku.  Belum sempat aku berkomentar, Sally langsung mencium kepala penisku.

“Aahh,” aku merasa geli, masih lemot meresponse Sally.  Tangan Sally memegang batang kemaluanku.  Meremasnya seperti tadi siang, hanya kini tanpa halangan apapun.

Sekarang mulut Sally sudah begitu dekat dengan penisku.  Siap-siap dimasukkan ke dalam mulut seksinya.

“Bud, aku mau...,” tiba-tiba Nyonya Elena muncul.  Matanya terbelalak melihat kami berdua.  Sally yang sedang bertelanjang bulat sedang memegang penisku yang berdiri panjang dan besar.  Kini posisi mulut Sally sudah mengulum kepala penisku (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 11)

POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG
Next
Previous