Bercinta Dengan Bodyguard Part 8
Aku terjaga ketika mendengar bunyi besi beradu. Aku langsung berdiri, bersiap-siap. Melihat sekeliling. Tidak ada siapapun. Terdengar seperti bunyi kompor dihidupkan. Aku membuka pintu perlahan. Ternyata Bi Surti lagi masak di dapur. Aku menutup pintu lagi. Aku melihat ke arah tempat tidur. Sally masih tertidur. Hanya kini tanktopnya sudah tidak karuan. Payudara sebelah kanannya terbuka. Memperlihatkan puting susunya yang coklat. Payudaranya begitu besar dan bulat. Aku meneguk ludah sesaat. Aku harus bisa mengendalikan diri. Sally baru saja mengalami pengalaman buruk.
Aku membuka sebuah selimut di bawah bantal Sally yang tidak ditiduri. Kututupi tubuhnya dengan selimut. Aku duduk kembali di kursi. Kuperhatikan wajah Sally yang sedang tidur nyenyak. Cantik juga sebenarnya hanya tampangnya lebih galak dari Nyonya Elena. Tapi hatiku sudah terpincut oleh Nyonya Elena. Sulit untuk melirik wanita lain. Mengingat kejadian semalam, seperti keyakinan dalam diriku dulu, bahwa aku yakin aku bisa mengalahkan Bambang. Dan melihat aksiku semalam, aku juga bingung kenapa aku bisa melakukan gerakan-gerakan seperti itu. Sebenarnya aku ini siapa? Kenapa aku bisa berkelahi seperti itu, begitu mudahnya aku mengalahkan Bambang. Aku melirik jam. Sudah hampir pukul 7 pagi. Aku beranjak dari kursi, aku menuju dapur. Aku minta tolong Bi Surti untuk memasak makan pagi untuk Sally.
Aku tidak sabar menunggu sore, menjemput Nyonya Elena kembali ke rumah. Baru tidak ketemu sehari,aku sudah kangen dengannya. Ciumannya masih menempel erat dalam benakku. Tidak lama kemudian, Sally terbangun. Membuka selimutnya, agak kaget mungkin melihat kondisi pakaiannya. Anehnya dia seperti tidak melakukan sesuatu tentang hal itu. Aku tersenyum padanya. Berbeda dari sebelumnya, Sally pun tersenyum manis padaku. Sangat manis. Aku belum pernah melihat dia secantik ini.
“Gimana Nona Sally, sudah merasa lebih baik?” tanyaku mendekati pinggir ranjang.
“Kok masih panggil Nona sih, panggil aja Sally biar lebih akrab, Bud,” jawabnya sambil tersenyum manis lagi. “Ayo coba panggil lagi, jangan pake Nona.”
“Baiklah, Non...baiklah Sally,” aku menuruti permintaannya.
Dia tersenyum senang. Tidak lama kemudian Bi Surti mengetuk pintu, nganterin nasi goreng buat Sally.
“Hmmm aku lapar banget. Bi Surti tau aja kalo aku butuh makanan,” Sally membuka selimutnya. Kondisi pakaiannya masih tetap sama. Payudaranya kanannya yang montok terlihat. Bagian bawah memakai celana dalam hitam. Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari tubuhnya.
“Aku keluar dulu ya, Non..eh Sally,” ucapku sambil berdiri.
“Jangan Bud. Aku masih takut tentang kejadian kemaren. Bagaimana kalo bajingan itu masuk ke kamar aku?” tanyanya sambil meraih tangan kananku.
“Aku berjaga semalaman disini, Sal. Ga mungkin Bambang kembali lagi ke sini,” jawabku.
“Kamu berjaga semalaman disini untukku, Bud,” wajahnya memperlihatkan rasa terharu atas apa yang telah kulakukan. “Dan kamu tidak berbuat apapun padaku, padahal pakaianku seperti ini?”
“Sudah tugasku Sally sebagai satu-satunya laki-laki dirumah ini,” aku tersenyum, kembali mataku melirik payudaranya yang terbuka.
“Aduh kamu bener-bener seorang gentleman, Bud,” Sally memelukku. Tentu saja payudaranya yag terbuka menekan dadaku. Begitu kenyal. Aku berusaha penisku agar tidak ereksi.
“Ah biasa aja, Sal,” aku berusaha melepaskan pelukannya. Tapi Sally malah memelukku erat-erat. Membuat payudaranya semakin menempel hangat pada dadaku. Dan aku semakin berusaha keras memikirkan hal lain selain payudaranya.
“Makan dulu Sal, mumpung masih hangat, biar kamu lebih segar,” setelah berkata begitu aku sekali lagi mencoba melepaskan pelukannya, kali ini Sally menurut. Dia duduk di pinggir ranjang. Mulai makan.
“Tapi kamu jangan pergi , Bud. Temenin aku disini ya, please,” mohonnya dengan wajah yang terus terang, terlihat sensual di mataku. Sialan.
“Sal, boleh benerin ga tali tanktop kamu,” akhirnya aku memintanya karena aku tidak tahan untuk tidak meliriknya. Aku yakin penisku sudah setengah ereksi.
“Ah kamu ga suka payudaraku ya?” dia meletakkan piringnya di ranjang. Tangan kanannya malah menggoyang-goyangkan payudaranya yang montok. Apa-apaan ini!
“Payudara aku jelek ya?” wajahnya terlihat memelas. Ada apa sih dengan wanita? Kemaren Nyonya Elena yang mengeluh soal tubuhnya, apakah lebih bagus dari Sally atau tidak.
“Bagusan payudara Elena ya, Bud?” tanyanya lagi sambil meremas payudara kanannya. What!!! Apa harus kujawab pertanyaannya. Pandanganku tidak lepas dari payudaranya yang terlihat lebih membusung karena diremas-remas.
“Ayo Bud jawab. Lebih bagus punya Elena ya?” tanyanya lagi sambil memelas.
“Bagusan punya Non..bagusan punya Sally,” brengsek, penisku ngaceng.
“ah kamu hanya nyenengin aku aja ya,” meskipun begitu Sally terlihat senang. “Ya uda kalo kamu suka kamu boleh liat yang satunya lagi.” Sally langsung melorotkan tali tanktopnya yang satu lagi. Kini kedua payudaranya terpampang jelas di depanku.
“Sal, kenapa diturunin?” tanyaku salah tingkah dan mukaku memerah.
“Kan kamu suka, Bud. Aku ingin menyenangkan kamu sebagai ucapan rasa terima kasih aku,” Sally tersenyum manis. Dia melanjutkan makannya. Kedua payudaranya tetap dibiarkan terbuka. Jelas aku bingung harus ngomong apa lagi. Pemandangan yang aneh, seorang wanita yang menarik, makan nasi goreng hanya dengan memakai celana dalam dan tank top nya diturunkan sehingga buah dadanya yang montok terlihat. Dan aku ada di ruangan yang sama, berusaha untuk tidak melirik ke pemandangan yang menggoda di depan mata. Ackward situation. Eh aku kok bisa bahasa Inggris ya. Ackward termasuk kata-kata yang tidak umum. Aku kini duduk melipat kaki, berusaha menyembunyikan penisku yang tegang.
Sally makan sambil beberapa kali melirikku. Keliatannya dia seneng melihat tingkahku yang kaku di hadapannya. Siapa yang bakalan tenang, melihat kedua payudara montok itu membusung topless. Aku pria normal sejauh yang kutahu. Tampaknya Sally sudah melupakan kejadian semalam. Bagus juga sih. Repot juga kalo dia masih shock.
“Sal, kenapa kemaren kamu bisa ribut dengan Bambang?” aku penasaran juga.
Wajah Sally sedikit berubah.
“Dia liat foto aku sama cowok di handphone aku. Dia cemburu, Bud. Langsung naik pitam.” Jawab Sally.
“Aku tidak menyangka perangai aslinya seperti itu. Ketika emosi, dia maen kekerasan.” Sally terlihat geram sekarang.
“Untung ada kamu, Bud,” nasi gorengnya tinggal tersisa sedikit. Dia meletakkan piringnya di ranjang. Berdiri dan mendekatiku. Payudaranya terlihat semakin dekat dan terlihat semakin bulat saja. Tanpa basa basi, Sally langsung menaikkan kaki kanannya melewati pahaku dan kini dia duduk di pahaku dengan kedua kakinya disamping kedua kakiku.
Aku menelan ludah. Tidak berani bernafas. Wajahku kaget.
Payudaranya menempel lagi di dekat dadaku. Selangkangannya menekan penisku. Sally tersenyum nakal. Mungkin dia tahu aku ternyata ereksi.
“Jangan malu-malu, Bud,” tangan Sally mengusap rambut belakangku.
“Eh Sal...jangan ...” aku terbata-bata.
Sally menggoyang-goyangkan pinggulnya, seakan-akan sedang mengocok penisku dengan selangkangannya.
“Jangan apa, sayang?” suaranya dilirihkan sengaja menggodaku. Sally mendekatkan payudaranya ke dadaku. Pinggulnya masih bergerak maju mundur. Dia kan hanya pakai celana dalam. Jelas sedikit sekali bahan kain yang merentangi penisku dan vaginanya. Sialan, penisku tidak bisa diajak kompromi. Berdiri semakin tegang karena gerakan pinggul Sally.
“Jangan apa, sayang?” tanyanya sekali lagi, kini dia berbisik di telingaku. Aku mendesah. Sally tertawa kecil. Dia tahu aku sudah terangsang olehnya.
“Aku hanya ingin berterima kasih padamu, Bud,” dia menggigit daun telingaku. Aku mendesah lagi. Ayo Bud, lakukan sesuatu. Kini bibir Sally sudah di pipiku. Mengecupi pipiku. Wake up, Bud!!! Namun aku masih terpaku, tidak berbuat sesuatu. Hanya mulutku yang bergumam tidak jelas. Selangkangan Sally makin menekan penisku. Atau sebenarnya penisku yang semakin tegang.
“Kamu mau aku buka celana dalamku, Bud?” nafas Sally mulai memburu.
“Aku...aku...” aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.
Sally tersenyum manja.
“Aku suka cowo pemalu seperti kamu, Bud,” Sally berdiri dan mundur dua langkah. Sambil menatapku penuh gairah, tangannya mulai memegang pinggiran celana dalamnya dan menurunkannya perlahan-lahan. Mulai terlihat bulu halus selangkangannya. Turun sedikit lagi.
“Bud, ini ada telepon dari Nyonya Elena!” teriak Bi Surti dari luar. (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 9)
POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG


0 comments: