Bercinta Dengan Bodyguard Part 7
Malam itu setelah menerima surat kaleng yang kedua, aku lihat Nyonya Elena duduk termenung di kursi panjang di pinggir kolam. Tentu saja tidak memakai baju renang yang seksi. Malam itu dia memakai piyama tidur, celana panjang. Aku menghampirinya. Apakah ini saat yang tepat untuk minta maaf soal ketelanjanganku tadi pagi? Atau aku hanya ingin menghiburnya? Melindunginya dari apapun, dari siapapun.
“Nyonya tidak apa-apa?” itulah yang aku tanyakan ketika aku sudah duduk di lantai dekat Nyonya Elena.
Nyonya Elena menatapku.
“Bagaimana mungkin aku tidak apa-apa, Bud. Itu surat kaleng kedua yang aku terima dan isinya sangat mengancam,” Nyonya Elena menghela napas. Aku pun ikut menghela napas.
“Apakah itu mungkin dari fansnya Nyonya?” tanyaku kemudian.
Nyonya Elena mengangkat bahu, dia menatap air di kolam renang.
“Bisa saja itu dari istri pertama suamiku,” jawabnya kemudian yang membuatku sangat terkejut. Nyonya Elena istri muda, atau mungkin istri simpanan?
“Oh, Pak Santoso sudah beristri sebelumnya. Kok Nyonya mau nikah sama dia?” tanyaku, sungguh sangat lancang. Mungkin Nyonya Elena akan marah dengan pertanyaanku.
Ternyata tidak. Mungkin dia lebih khawatir dengan isi surat kaleng itu. Tapi dia hanya mengangkat bahu lagi. Aku merasa tidak enak untuk bertanya lebih jauh.
“Kamu ngapain duduk di lantai? Duduk disini disebelah aku,” tangannya menepuk tempat kosong di kursi.
Aku bangkit berdiri dan duduk di sebelahnya. Aroma tubuhnya langsung tercium. Aku ingat kejadian tadi pagi, lalu kejadian kami saling bertatapan. Ingin kurengkuh tubuhnya dan berkata, jangan khawatir Nyonya, aku akan melindungimu dari apapun. Ingin aku memegang kedua bahunya agar dia yakin. Tanganku sudah mulai terangkat untuk melakukannya ketika tiba-tiba Nyonya Elena bersandar di bahu kiriku.
“Apakah aku orang yang pantas mati, Bud?” aku tidak langsung menjawab. Aku sedang meredam gejolak detak jantungku. Wangi rambutnya tercium begitu dekat denganku.
“Tidak Nyonya. Nyonya orang paling baik yang pernah aku temui,” jawabku kemudian. Hangat tubuh sampingnya yang bersandar di badanku membuat aku membayangkan yang tidak-tidak. Keparat kau, Bud. Orang lagi cemas, kamu malah mikir yang aneh-aneh.
“Kamu mau melindungiku kalo ada seseorang yang mencoba membunuh aku?” dia mengangkat kepalanya, menatap dalam-dalam mataku. Aku pun menatapnya balik. Kejadian di mobil terulang kembali tapi kini tanpa media kaca spion.
Padahal ada Bambang, tapi kenapa dia minta tolong padaku? Begitu pikirku.
“Ya, Nyonya, aku akan selalu melindungimu,” aku menjawab dengan yakin.
Nyonya Elena tersenyum sangat lembut. Mata kami masih saling menatap. Tanpa kusadari jarak wajah kami semakin dekat. Aku menatap bibirnya bergantian dengan menatap matanya. Nyonya Elena pun melakukan hal yang sama. Lalu bibirnya mencium bibirku. Hangat bibirnya membuat darahku panas. Bibir kami saling merekuh. Tidak ada ciuman panas, tidak ada permainan lidah, tidak ada air liur yang terlibat. Hanya Bibirku dan bibirnya bertemu. Ingin aku memeluknya erat. Tapi tidak kulakukan. Kunikmati saja momen ini. Kunikmati bibir lembutnya yang bersentuhan dengan bibirku.
“Terima kasih, Bud,” sebenarnya aku ingin lebih lama menikmati ciumannya. Nyonya Elena bangkit, sekali lagi tersenyum lembut padaku lalu meninggalkan aku tetap duduk di pinggir kolam renang. Aku merasakan bibirku masih menempel dengan bibirnya. Ketika aku memalingkan wajah ke belakang, Nyonya Elena sudah tidak kelihatan. Kusentuh bibirku dengan jari telunjukku. Aku akan mengorbankan apapun demi melindungimu, Nyonya Elena.
Keesokan harinya setelah berdebat dengan Bambang dan Sally, Nyonya Elena masih merasa cemas dengan surat kaleng itu. Dia memutuskan untuk menginap di rumah mamanya. Dan dia tidak mau ditemani siapapun. Inilah yang menjadi bahan perdebatan meskipun akhirnya semua tidak bisa memaksa Nyonya Elena untuk ditemani. Aku tidak ikut berdebat. Aku hanya diam saja. Begitu hanya aku dan dia berdua di mobil. Baru aku bicara
“Apakah sebaiknya ada yang menemani Nyonya?” tanyaku sambil melihatnya dari kaca spion.
“Ga usah, Bud. Aku ingin menyendiri. Kalo ada salah satu dari kalian, aku malah akan terus ingat surat kaleng itu,” jelasnya.
“Aku bisa tidur di mobil,” aku membalikkan wajah sebentar menatapnya lalu kembali melihat ke arah jalan.
Nyonya Elena tertawa.
“Ga usah, Bud. Malah merepotkan kamu entar,” tetap sambil tertawa kecil.
“Kan aku sudah janji akan melindungi Nyonya semalam,” tanpa sadar aku menyentuh bibirku.
“Bud, itu rahasia kita yah. Jangan ada orang yang tau kejadian semalam,” ujar Nyonya Elena kemudian.
“Iya Nyonya.” Dalam hati aku berharap kapan aku bisa menciumnya lagi.
“Kamu sudah ingat tentang dirimu?” tiba-tiba dia bertanya seperti itu.
“Belum, Nyonya,” jawabku.
“Tapi ciuman semalam ga lupa kan?” Nyonya Elena tertawa lagi. Aku pun tertawa dengan wajah sedikit panas.
“Kenapa Nyonya menciumku semalam?” aku memberanikan diri bertanya.
“Kenapa yah? Mungkin karena suasana, Bud. Atau karena aku merasa aku bisa mempercayai kamu. Entah kenapa,” jawabannya tidak memuaskan aku tapi aku tidak bertanya lebih jauh. Apakah karena Nyonya menyukaiku? Itu hanya kukatakan dalam hati saja. Dasar tidak tahu diri, memang siapa aku, pantas dicintai oleh seorang wanita cantik, elegan seperti Nyonya Elena. Aku tersenyum pedih sesaat.
Malam itu terasa sepi tanpa Nyonya Elena. Nyonya Elena memintaku untuk menjemputnya besok sore. Aku duduk di kursi panjang di pinggir kolam. Mengenang kejadian indah malam sebelumnya, ketika tiba-tiba ada teriakan perempuan dari kamar Bambang. Aku segera bangkit dan berlari menuju kamar Bambang. Terdengar seperti dua orang sedang ribut begitu aku mendekat. Bi Surti tampaknya tidur dengan lelap.
“Jadi itu foto siapa yang di hape loe?” terdengar suara marah Bambang.
“Bukan urusan loe!” Sally tidak kalah garangnya di tengah-tengah tangisannya.
Terdengar suara tamparan. Sally berteriak lagi.
“Beraninya loe ama perempuan?” teriak Sally. Aku tidak tahan mendengar teriakan perempuan. Aku mencoba membuka pintu, tidak terkunci. Ketika aku membuka pintu, kulihat Sally lagi bersimpuh di lantai, memegang pipi kirinya. Tali tanktop sebelah kanannya melorot memperlihatkan belahan dada sebelah kanan. Bawahnya hanya memakai celana dalam warna hitam. Mereka kaget melihat aku ada di depan pintu mereka.
“Ayo ngaku!” teriak Bambang. Tanpa sempat aku cegah, posisi Bambang yang sedang berdiri di depan Sally yang bersimpuh. Kaki Bambang menendang tulang kering kanan Sally. Sally menjerit. Air matanya mulai keluar.
“Hei bang. Jangan kasar sama perempuan,” sebenarnya bukan urusanku tapi aku tidak tega melihat seorang perempuan diperlakukan seperti itu.
“Bukan urusan loe, Bud!” telunjuk Bambang diarahkan padaku. Sally menatap aku. Seakan-akan minta perlindungan. Teringat Sally yang sering begitu ketus padaku, sebenarnya aku bisa saja tidak ikut pertikaian mereka. Tapi tatapan dan air mata Sally membuat aku tidak tega. Aku mendekati mereka.
“Tolong bang, jangan ribut di rumah Nyonya Elena,” ujarku kemudian.
“Gua uda bilang, jangan ikut campur,” Bambang yang memang sudah emosi, tampaknya semakin emosi melihat aku ikut campur. Dia ingin menampar pipi Sally dengan tangan kirinya. Aku dengan sigap bergerak mendekat dan menahan tangan kirinya.
“Tolong bang, jangan begitu,” aku masih bisa berkata dengan normal tanpa emosi.
Bambang menatapku tajam. Tampaknya kini dia ingin melampiaskan kemarahannya padaku. Aku melihat sekeliling. Kulihat pisaunya ada di pinggir meja dekat ranjang. Aman. Jauh dari jangkauan. Desir darahku bergerak cepat. Aku merasa adrenalin dalam tubuhku terpompa. Menajamkan inderaku. Makanya ketika dia berusaha melepas tangan kirinya yang tertahan oleh tangan kananku. Bambang menggunakan tangan kanannya ingin menghantam wajahku. Aku mengelak mundur, melepaskan peganganku di tangan kirinya. Lalu dengan menekuk jari-jari tanganku sehingga buku-buku jariku meruncing dan kuhantam jakun Bambang dengan keras. Bambang terbatuk-batuk, seakan-akan sulit bernafas. Dia memegangi lehernya. Segera aku menggerakkan kaki kiriku, menendang bagian belakang lututnya sehingga posisi berdirinya lemah. Ketika dia hampir jatuh, aku segera bergerak ke belakang badannya, mendorongnya jatuh ke lantai. Menikung tangan kirinya kebelakang. Lutut kiriku menahan lehernya. Wajah merah Bambang menghadap Sally yang kaget dengan apa yang baru saja aku lakukan. Wajah meringisnya dan air mata Sally tidak bisa menutup rasa kagetnya.
“Minta maaf ga sama Nona Sally?” Aku menekan lehernya lebih kuat dengan lututku. Bambang seperti berontak, tidak mau melakukan hal itu. Aku memutar pergelangan tangan kirinya dengan tanganku. Bambang menjerit kesakitan.
“Minta maaf sekarang!” perintahku.
“Oke..oke!” tidak ada pilihan buat Bambang.
“Gua minta maaf, Sal,” ditengah ringisannya. Setelah Bambang minta maaf, baru aku melepaskan pergelangan tangannya dan lututku dari lehernya. Aku berdiri.
Dengan susah payah dan wajah merah padam, Bambang berdiri. Melihat aku dan Sally yang masih bersimpuh di lantai bergantian. Tatapannya penuh dendam. Aku pun tidak kalah tajam menatapnya. Sepertinya dia masih belum puas. Jakunnya pasti masih berdenyut karena menerima pukulanku tadi. Mungkin dia sedang menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya dia pergi keluar tanpa berkata apapun pada kami berdua.
Sally menghela napas lega. Sedangkan aku seperti orang lain yang berbeda. Semangatku seperti berada pada puncaknya karena adrenalin. Aku merasa sangat berenergi. Aku melihat Sally bersandar pada pinggir ranjang. Memegang tulang keringnya yang tadi ditendang Bambang. Kedua pipi Sally merah bekas tertampar Bambang. Sally tidak sadar pakaiannya begitu terbuka. Bi Surti masih tidak terbangun setelah keributan tadi.
“kakinya masih sakit?” tanyaku mendekat.
“Makasih Bud. Aku ga nyangka kamu bisa mengalahkan bajiangan itu. Padahal badannya kan lebih besar dari kamu.” Kini pandangan Sally padaku berbeda.
“Nona bisa berdiri?” tanyaku lagi. Sally berusaha berdiri, menahan sakit pada tulang keringnya. Wajahnya meringis. Ketika setengah berdiri, tampaknya dia tidak kuat lagi. Hendak jatuh tapi aku dengan sigap memegang lengannya. Mengangkat tubuhnya biar bisa berdiri.
“Sakit, Bud. Kayaknya aku ga bisa jalan ke kamarku deh,” Sally menatapku. Aku tidak menyadari tubuhnya yang begitu dekat denganku.
“Ya uda sini aku gendong,” akhirnya aku berkata padanya. Sambil mengangkat kedua kakinya dengan tangan kiriku dan menahan punggungnya dengan tangan kananku. Mengangkat tubuhnya. Otomatis kedua tangan Sally merengkuh leherku untuk menahan bobot tubuhnya.
Aku seperti terbiasa melakukan ini. Tubuh Sally tidak terasa berat. Wajah Sally begitu dekat dengan wajahku. Hembusan nafasnya mengenai pipiku. Sally masih menatapku dengan pandangan yang berbeda.
Ketika sampai di kamar Sally, aku membaringkannya di ranjang. Tali tanktopnya kini dua-duanya melorot, memperlihatkan belahan payudara bagian atas Sally yang bulat membusung. Pahanya jelas terlihat karena dia hanya memakai celana dalam.
“Non, istirahat aja ya. Jangan khawatir aku akan menjaga disini siapa tau si Bambang itu kembali lagi,” aku mengambil sebuah kursi yang ada sandarannya. Menggesernya dekat ranjang Sally dan duduk disana.
Sally menatapku dengan rasa terima kasih. Sally tidur menyamping, matanya menatapku. Aku pun menatapnya seakan-akan memberitahu untuk jangan khawatir. Aku akan ada disini sepanjang malam ini. Sampai akhirnya Sally pun tertidur. Setelah dia tertidur, aku baru bisa menghembuskan nafas lega. Adrenalinku tampaknya sudah normal. Aku tidak merasa bersemangat lagi. Dan tanpa aku sadari ternyata aku pun tertidur. (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 8)
POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG


0 comments: