Bercinta Dengan Bodyguard Part 6

Malam itu aku sulit tidur, masih teringat akan kecupan Nyonya Elena di pipiku.  Bentuh tubuhnya dan parasnya yang menggoda.  Ditambah kemudian aku teringat dengan persetubuhan Sally dan Bambang.  Udara di kamarku yang biasanya tidak terlalu panas, kini terasa sangat gerah.  Kubuka kaos dan celana pendekku.  Berdirilah dengan tegak tanpa halangan lagi penisku yang menurutku lebih besar dan lebih panjang daripada milik Bambang. Urat-urat penisku pun menyembul, menambah penisku terlihat lebih perkasa.  Aku mulai mengocok penisku sambil membayangkan Nyonya Elena ada di hadapanku. Membayangkannya ada dihadapanku pun, melihat aku sedang masturbasi sudah sangat membuatku horny.  Aku teringat matanya yang melongo melihat Sally dan Bambang sedang bergumul, kini kubayangkan sedang melongo melihat aku sedang mengocok penisku.  Teringat lagi kecupannya di pipiku.

“Uuuhhh....,” aku mendesah.  Kocokanku makin cepat.  Pantatku menegang. Pinggulku terangkat tinggi ketika aku memuncratkan spermaku begitu kencang.  Enak sekali rasanya.  Karena aku amnesia, aku tidak tahu kapan terakhir aku mengeluarkan sperma.  Tapi dalam hal mengocok penis, ternyata aku tidak amnesia.  Aku kemudian terlelap karena terasa sangat lelah.

Aku terbangun di pagi hari ketika suara pintu kamarku terbuka dan kudengar suara Nyonya Elena memanggilku.

“Bud...”

Aku terbangun. Sedikit agak pusing mungkin karena kurang tidur.

“Ya Nyonya,” jawabku dengan suara serak.  Aku melihat Nyonya Elena memakai kimono putih seperti tiap pagi saat dia ingin berenang.

Aku menggosok mata dan langsung berdiri.  Setelah aku mulai benar-benar tersadar dari tidurku.  Kulihat Nyonya Elena sedang melongo seperti semalam.  Apakah aku masih bermimpi?  Apakah wjah melongo nya terbayang-bayang terus di otakku.  Tapi tampaknya tidak.  Aku sudah terbangun.  Kuperhatikan pandangan mata Nyonya Elena menatap ke bawah, ke arah tubuh bawahku.  Aku mengikuti pandangannya.

Ya ampun, aku bugil dengan penis berdiri tegak.  Penis pria kan memang tiap pagi selalu ngaceng.  Aku lupa semalam sehabis aku masturbasi aku tidak memakai lagi kaos dan celanaku.  Kini tubuh telanjangku terlihat jelas oleh Nyonya Elena.  Aku bagai kepiting rebus, bukannya cepat-cepat memakai pakaian atau menutupi selangkanganku dengan apapun.  Aku malah diam saja, bingung, kaget dan malu bercampur aduk.  Setelah sekian detik, baru aku menutup selangkanganku dengan tangan.  Tapi  penis besarku dan bulu halus-halus di sekitar selangkanganku tidak bisa tertutup semua.

Kulihat wajah Nyonya Elena terlihat jengah dan bercampur malu tapi pandangannya tidak beralih dari selangkanganku.  Matanya sudah tidak terlihat melongo lagi.  Kemudian dia menggelengkan kepala.  Lalu memalingkan pandangannya.

“Ga jadi, Bud,”  suaranya terdengar serak, berbeda ketika dia memanggilku tadi.

Aku cepat-cepat memakai pakaianku ketika Nyonya Elena sudah meninggalkan tempatku.  Betapa bodohnya aku.  Aku tampar pipi kananku.  Telanjang di depan Nyonya Elena.  Bagaimana nanti tanggapannya terhadapku?  Apakah dia akan membenciku?  Membayangkan Nyonya Elena membenciku, membuat aku semakin tidak karuan.

Tepat jam 8,  kegiatanku setiap pagi, aku memotong rumput.  Pikiranku semakin tidak karuan karena Nyonya Elena tidak muncul seperti biasanya untuk berenang.  Aku mulai berpikir yang aneh-aneh.  Pasti gara-gara dia melihatku telanjang tadi.  Sakit kepalaku muncul lagi.  Aku berjongkok dan memegang kedua sisi kepalaku.  Aku mencoba mengatur napasku.  Pikirkan sesuatu yang menyenangkan, Bud.  Kecupan semalam aja.  Memikirkan kecupan Nyonya Elena ampuh, membuat sakit kepalaku sedikit berkurang.  Rasa ingin muntah sedikit berkurang juga.

“Bud, siapin mobil. Nyonya Elena mau pergi ke kantor,” teriak Bi Surti.  Dengan kepala yang sedikit masih berdenyut tidak enak, aku pergi menyiapkan mobil.  Tidak sampai 15 menit kemudian, aku dan  Bambang duduk di depan.  Nyonya Elena dan Sally duduk di belakang.  Kami sudah di perjalanan menuju kantor Nyonya Elena.  Kantor Nyonya Elena sebenarnya adalah kantor almarhum suaminya, sebuah rumah produksi.  Tidak rutin Nyonya Elena datang ke kantornya, kadang-kadang saja.  Sampai detik ini, Nyonya Elena belum mengatakan apapun padaku.  Aku pun berusaha menahan diri untuk tidak berpikir yang aneh-aneh lagi.  Aku melirik sekilas Bambang di sampingku.  Mendengar suara Sally yang lagi ngobrol dengan Nyonya Elena.  Mengingatkan aku akan kejadian semalam.  Darahku berdesir. 

Yang membuat aku kaget adalah ketika aku melihat spion di atas kiriku.  Ternyata meskipun sedang mengobrol, ternyata Nyonya Elena sedang memperhatikan bayanganku yang terpantul di kaca spion itu.  Pandangan kami saling bertemu lewat kaca spion itu.  Aku tertegun sesaat.  Sebelum aku kembali berkonsentrasi menyetir mobil. Jantungku deg-degan.  Belum pernah kulihat pandangan Nyonya Elena seperti itu padaku.  Aku berdehem kecil berusaha menormalkan denyut jantungku.  Tidak berhasil.  Aku gatal ingin tahu apakah Nyonya Elena masih menatapku lewat kaca spion.  Sekali lagi, pandangan kami bertemu.  Sepersekian detik lebih lama dari yang pertama.  Setelah itu aku kembali berkonsentrasi, tepatnya berusaha fokus menyetir.  Kenapa dia melihatku seperti itu?  Tapi bukan pandangan benci atau tidak suka yang kutangkap dari tatapannya.  Aku tidak berani menatap kaca spion lagi.  Aku takut bertatapan lagi dengannya.

Dalam perjalanan pulang, beberapa kali aku melihat kaca spion tapi untungnya kami tidak pernah bertatapan seperti tadi.  Aku sedikit lega.  Jantungku aman-aman saja.  Mungkin kalo ada kesempatan, aku ingin minta maaf secara pribadi dengan Nyonya Elena tentang kejadian tadi pagi.  Ya aku harus minta maaf.  Ketika sampai di rumah dan turun dari mobil, Nyonya Elena masih belum mengatakan apapun padaku.  Kumasukkan mobil ke garasi.  Ketika aku hendak menutup garasi, aku melihat ada sesuatu di sudut pekarangan dekat rerumputan.  Seperti sebuah amplop.  Tutupnya tidak disegel.  Aku membukanya, ada selembar kertas.   Aku penasaran apa isinya.  Aku kaget membaca isinya.  Huruf-huruf yang seperti guntingan dari koran atau majalah, bertuliskan “ELENA IS A BITCH. AND I WANT HER DIE”

Aku segera membuka pintu gerbang, aku berlari melihat sekeliling. Tidak ada siapapun.  Meskipun surat kaleng ini bukan untukku, tapi tertuju buat Nyonya Elena.  Aku merasa sangat cemas.  Apa aku harus memberikan surat ini pada Nyonya Elena?  Apakah hal itu malah akan membuat dia menjadi khawatir dan menjadi tidak tenang?  Aku bingung, apa yang harus kulakukan.  Aku melangkah menuju pintu depan rumah Nyonya Elena yang terbuka.  Aku berdiri ragu di depan pintu, berusaha menimbang-nimbang apa yang harus kulakukan tentang surat kaleng ini.

Kemudian Sally muncul.

“Apa itu Bud di tangan kamu?” tanyanya.

“Egh..ini...,” aku masih ragu.

Sally mendekat dan merebutnya dengan tiba-tiba.  Dia membacanya dan wajahnya berubah.

“Darimana kamu dapet ini?” tanyanya, lebih ke arah menuduh.

“Ada di rerumputan, Nona,” jelasku.

“Kamu liat sesuatu yang mencurigakan?” tanyanya sedikit curiga padaku.

“Waktu aku lari ke luar, ga ada siapa-siapa, Nona.  Mungkin sudah ada disitu waktu kita pergi, Nona” jelasku lagi.

Sally langsung berjalan cepat ke dalam.  Aku mengikutinya.  Sally memberikan surat kaleng itu pada Elena.  Wajah Elena langsung pucat.  Bambang berdiri di belakang Elena.  Bambang mengambil surat kaleng itu dan membolak-baliknya. Seakan-akan dengan melakukan itu, dia bisa tau siapa pengirim surat kaleng itu.

Nyonya Elena menatapku dengan wajah cemasnya.  Lalu menatap Sally dan Bambang yang kini berdiri di depannya.

“Mungkin ini orang yang sama, Nyonya,” kata Bambang.  Orang yang sama dengan apa? Pikirku yang berdiri agak jauh dari mereka.

“Mungkin kamu yang nulis ya, Bud?” tanya Sally menuduhku.

Aku menggoyang-goyangkan tanganku dan menggelengkan kepala.

“Bukan aku, aku nemu di rerumputan,” suaraku agak keras.  Aku menatap Nyonya Elena, aku khawatir melihat wajahnya yang pucat.  Sally yang a bitch, nuduh aku sembarangan.

“Ini bukan becandaan, Nyonya.  Ini surat kaleng kedua, dengan jenis yang sama. Menggunakan guntingan huruf dari koran atau majalah,” kata Bambang sambil meletakkan surat itu di meja makan.

Surat kaleng kedua?  Benar seperti kata Bambang, batinku.  Mungkin ini bukan sebuah candaan tapi merupakan hal yang serius.  Seseorang ingin membunuh Nyonya Elena. (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 7)

POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG
Next
Previous