Bercinta Dengan Bodyguard Part 5
Nyonya Elena berdiri di samping kiriku. Tirai terbuka di sebelah kananku. Aku menatap wajahnya yang memperlihatkan kecurigaan. Tangan kananku menutup selangkanganku dimana penisku berdiri. Seharusnya aku tidak melirik lagi ke arah tirai yang terbuka itu. Namun entah kenapa aku melirik sekilas. Hal ini menarik perhatian Nyonya Elena. Dengan perlahan-lahan, dia berjinjit mendekati tirai yang terbuka itu. Aku ingin mencegahnya tapi suaraku tercekat di tenggorokan.
Nyonya Elena melongo, bibirnya terbuka tidak terlalu lebar ketika melihat apa yang sedang terjadi di dalam kamar. Cepat-cepat dia menutup mulutnya dengan tangan kanan. Melirik aku sekilas sebelum kembali melihat ke balik tirai. Tangan kirinya memegang dadanya, mungkin dia cukup shock juga melihat Sally dan Bambang sedang bercinta di dalam. Aku memperhatikannya, celana pendek dari kain sutra dengan daster tanktop warna pink, membuat Nyonya Elena terlihat sangat lembut. Pandangannya masih terpaku ke balik tirai. Entah berapa lama waktu berlalu.
Tangan kanannya masih menutupi mulutnya. Tapi tangan kirinya mulai terlihat gelisah. Bergerak-gerak di sekitar pinggiran dasternya di bagian dada. Mengelus-elus kulit dadanya yang putih. Aku pun berusaha menahan birahiku setelah tadi melihat Sally yang sedang mengulum penis Bambang. Kini melihat wanita cantik di depanku yang terlihat sedang menikmati adegan bercinta di dalam. Pandanganku tak lepas sedetikpun dari wajah Nyonya Elena.
Setelah tampaknya Nyonya Elena berhasil menguasai dirinya, tiba-tiba dia memegang tanganku dan menarikku pelan-pelan masuk ke dalam rumah. Langkahnya semakin lama semakin cepat. Aku pun mengikuti derap langkah kakinya. Dia menarikku ke ruang tamunya. Lalu dia pun duduk cepat di sofa empuk di ruang tamunya. Tanganku yang ditariknya membuatku pun ikut duduk di sebelahnya.
Nyonya Elena menatapku. Seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Aku pun menatapnya. Lalu tiba-tiba dia tertawa cekikikan sambil menutup mulut. Tangan kanannya memegang perutnya. Entah kenapa aku pun ikut tertawa juga. Kami tertawa bersama-sama sampai air matanya meleleh sedikit, begitu pula aku. Setelah puas tertawa, kami pun rebahan di sandaran sofa. Mencoba mengatur nafas kami. Kulihat dada Nyonya Elena yang naik turun. Putingnya tercetak dari balik dasternya.
“Nyonya tau tentang hubungan mereka?” tanyaku agak lirih karena melihat dadanya yang naik turun.
Nyonya Elena menggeleng. Dia tertawa kecil.
“Oh,” hanya itu yang bisa kuucapkan. Tanpa aku sadari, lengan kami saling bersentuhan. Kulit halusnya terasa begitu menghangatkan lenganku. Penisku berdiri lagi.
“Celana kamu kekecilan ya?” tanyanya sambil tersenyum penuh arti.
Apa! Aku melihat ke arah celanaku. Penisku membentuk sebuah gundukan di celana pendekku.
“Eeghh, ga..apa?” aku gelagapan menjawabnya.
Nyonya Elena tertawa melihat tingkahku. Aku langsung menggerakkan tangan kiriku menutup selangkanganku.
“Nyantai aja, Bud. Wajar toh kalo kamu kerangsang setelah melihat mereka bercinta. Nilai lebihnya meskipun kamu amnesia tapi kamu tahu kalo kamu bukan gay,” lanjutnya sambil tertawa.
Entah seberapa merah wajahku mendengar perkataannya. Penis sialanku masih berdiri
Nyonya Elena mengubah posisinya, kakinya dilipat di atas sofa. Kini dia duduk bersila di sebelah kananku. Tangannya memegang pahaku.
“Badan Sally bagus ya, Bud. Montok banget,” Nyonya Elena entah kenapa mengucapkan itu padaku.
“Eghh...anu, Nyonya,” aku jelas bingung bagaimana menjawab kata-kata Nyonya Elena.
“Anu apa?” tampaknya dia sengaja menggodaku.
“Iya montok, Nyonya,” akhirnya aku menjawab juga.
“Bagus mana badannya sama badan aku?” apa sih maksud Nyonya Elena berkata begitu.
Wajahku kembali memerah. Aku bingung harus menjawab apa.
“Ayo jujur aja,” tangannya sedikit meremas pahaku. Apakah dia menyadari hal itu?
Kutahan tangan kiriku di selangkanganku, menahan penisku agar tidak berdiri lebih tegak.
“Ayo jawab, Bud,” ucapnya manja. Sambil tangannya menggoyang-goyangkan pahaku.
“Anu Nyonya. Eggh...” aku melihat Nyonya Elena menatapku dengan pandangan nakalnya, menunggu jawabanku.
“Oh bagusan Sally ya, makanya kamu bingung jawabnya. Kamu merasa ga enak ama aku,” ujarnya kemudian. Wajahnya sedikit cemberut.
“Bukan..bukan,” aku menggelengkan kepala cepat-cepat.
“Jadi bagusan mana? Ayo jujur Bud,” mimik cemberutnya menghilang.
“Bagusan Nyonya Elena sih, eggh..badannya proporsional,” aku berusaha keras untuk berbicara dengan lancar.
Senyuman mulai tersungging di mulutnya.
“Ah yang bener. Kamu sengaja pengen nyenangin aku aja ya?” Kini dia mencubit pahaku. Aduh, Nyonya, kamu menyiksaku. Penisku tidak bisa kutahan lagi, berdiri tegak.
“Bener, Nyonya, aku ga boong. Aku lebih suka bentuk tubuh Nyonya,” Apa!!! Kenapa aku bisa bilang begitu.
Nyonya Elena tersenyum senang. Bibirnya membentuk senyuman yang begitu manis.
“Makasih, Bud. Aku tidur lagi ya,” Nyonya Elena berdiri. Aku menghela napas lega. Kalo lama-lama dia berada di dekatku, aku bisa orgasme.
Namun sebelum dia pergi, dengan gerakan sangat cepat. Dia mengecup pipi kiriku dan lalu berlari pelan menuju kamarnya. Aku tertegun. Nyonya Elena mencium pipiku. Apa maksudnya? Aku tidak percaya dia melakukan itu. Aku menyentuh bagian pipiku yang diciumnya. Aku tabok pipi kananku pelan. Tidak terasa. Aku tabok lebih keras. Sakit. Ternyata aku tidak bermimpi. Aku mulai terlihat seperti orang gila. Senyum-senyum sendiri. Sambil tetap memegang pipi kiriku yang dicium Nyonya Elena, aku berjalan kembali ke kamarku. Aku lupa tujuan awalku keluar kamar untuk minum. Tirai yang terbuka di kamar Bambang pun tidak kuhiraukan lagi. Di dalam kepalaku hanya terngiang-ngiang rasanya dicium oleh Nyonya Elena. Wanita idamanku. (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 6)
POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG


0 comments: