Bercinta Dengan Bodyguard Part 4
Seperti yang aku ceritakan di awal, aku seorang supir. Namun aku tetap membantu kerjaan rumah. Dan tentu saja hal favorit yang aku tunggu-tunggu adalah jam 8 ketika aku sedang memotong rumput. Karena hampir selalu tepat jam 8 atau paling lebih beberapa menit, Nyonya Elena selalu berenang dan habis berenang pasti rebahan dulu di kursi panjang di pinggir kolam. Sepertinya dia tidak keberatan kalo body seksinya yang terbalut hanya swimsuit atau bikini dilihat oleh supir pribadinya, aku.
Mengenai dua musuh dadakan aku, aku pun tidak mau kalah, aku harus mencari sekutu. Tentu saja pilihan hanya jatuh pada Bi Surti. Ternyata Bi Surti sudah lama ikut Nyonya Elena, semenjak Nyonya Elena belum menikah dengan Pak Santoso. Bagus sekali pikirku, apabila ada terjadi sesuatu tentu Nyonya Elena akan lebih memihak Bi Surti. Lain halnya dengan Sally, ternyata dia managernya Nyonya Elena, yang mengurus segala hal tentang pekerjaan Nyonya Elena sebagai artis. Kata Bi Surti, Nona Sally adalah sepupu jauhnya Nyonya Elena.
Agak sulit bagiku kalo begitu. Mereka ada hubungan saudara. Meskipun sepupu jauh. Maka dari itu sebagai manager Nyonya Elena, Sally diberi kamar di lantai satu di seberang kamar Nyonya Elena dan Sally sering menginap di rumah Nyonya Elena. Nah lain lagi kalo Bambang, dia baru ikut Nyonya Elena dua tahun terakhir ini. Setelah Nyonya Elena merasa bahwa keselamatannya sebagai artis dan sebagai pribadi agak kurang aman. Aku tanya lebih jauh, kurang aman gimana maksudnya. Bi Surti tidak mau menjelaskan lebih dalam lagi. Aku pun tidak mau memaksanya.
Mengenai amnesiaku, belum ada perubahan, aku masih belum ingat apapun tentang diriku. Sakit kepalanya masih suka muncul tiba-tiba tapi dua luka dikepalaku sudah hampir sembuh. Pekerjaan seorang supir ternyata biasa saja. Tapi karena aku menyupiri Nyonya Elena, sehingga aku bisa sering berdekatan dengannya membuat pekerjaan ini bagaikan surga untukku. Nyonya Elena cukup baik padaku. Dia sering menanyakan bagaimana amnesiaku. Hampir setiap saat dia menanyaiku tentang hal itu. Aku sangat berterima kasih atas perhatiannya.
Dan aku baru tahu, hari ini. Ternyata seorang bodyguard tidak harus setiap saat menemani dan menjaga kliennya. Seperti hari ini, Nyonya Elena minta diantar olehku ke rumah mamanya. Bambang agak keberatan mengetahui bahwa Nyonya Elena hanya akan berduaan denganku. Begitu juga Sally. Tapi Nyonya Elena sekali lagi bilang bahwa dia percaya padaku. Aku penasaran apakah Nyonya Elena tahu tentang hubungan mereka?
Hari ini Nyonya Elena memakai gaun terusan panjang dengan kancing-kancing besar di bagian dada dan belahan gaun panjangnya di bagian kiri sampai di atas lutut. Benar-benar bagaikan bidadari seksi bagiku.
Ketika kira-kira lima menit baru meninggalkan rumah.
“Bud, ganti arah. Kita ke mall dulu,” Nyonya Elena menyebutkan nama mallnya. “Nanti aku kasi tau arah jalannya.”
Mungkin aku bukan orang sini atau karena amnesiaku. Tapi ada beberapa jalan, sebagian besar sebenarnya, aku tidak tahu tempatnya. Aku juga bingung kenapa rumah Nyonya Elena yang pertama kali aku datangi ketika aku amnesia.
Karena tidak ada bodyguardnya, Nyonya Elena turun di tempat aku memarkirkan mobil.
“Bud, kamu ikut aku,” katanya kemudian ketika dia sudah membuka pintu mobil.
Ikut. Aku tidak pernah ikut Nyonya Elena, biasanya beberapa hari ini, aku hanya berdiam di dalam mobil. Aku merapikan baju sederhanaku. Celana jeans belel dengan kaos polos warna coklat. Aku tidak mau tampil tidak pantas jika ingin berjalan bersama Nyonya Elena.
Ketika turun dari mobil, Nyonya Elena langsung memakai kacamata hitam dan topi lebarnya. Mungkin dia tidak ingin dikenal banyak orang di mall. Aku berjalan di belakangnya. Memperhatikan gerak pinggul dan pantatnya yang bergerak ketika dia berjalan. Sungguh menggoda, pikirku.
“Bud, jalan disamping aku dong,” ujarnya kemudian.
“Ah jangan Nyonya,” jawabku malu.
“Uda cepet, jangan ngebantah,” suaranya agak ketus tapi sambil tersenyum.
Aku pun menurutinya. Mallnya tidak begitu besar. Lalu tidak lama Nyonya Elena masuk ke sebuah toko pakaian pria. Dia ngobrol-ngobrol sebentar. Aku menunggu di dekat pintu toko.
“Bud, sini,” panggilnya sambil melambaikan tangan.
Si pegawai toko, seorang wanita membawakan beberapa pasang pakaian.
“Kamu cobain tuh di tempat nyoba,” Nyonya Elena menunjuk ke pojok toko.
“Buat apa, Nyonya?” aku heran.
“Kamu kan supir aku, masa pakaian kamu lecek begitu bekas Pak Karman,” jawabnya sambil tersenyum. Pak Karman itu nama tukang kebunnya yang dulu.
“Kamu cobain sepasang-sepasang, nanti kamu keluar sambil pake yang kamu suka,” lanjutnya sambil kemudian mulai ngetik di smartphonenya.
Aku masuk ke dalam booth, mencoba semua pakaian yang diberikan karyawan toko tadi. Akhirnya setelah mencobanya, pilihanku jatuh pada celana panjang hitam dengan kemeja warna biru muda lengan panjang. Aku keluar membawa sisa pakaian yang tadi aku coba.
Nyonya Elena tidak langsung memalingkan wajahnya dari smartphonenya. Aku menunggu. Lumayan bagiku, melihat belahan gaunnya yang memperlihatkan paha kirinya ketika dia sedang duduk. Begitu selesai mengetik sesuatu, Nyonya Elena baru menatapku. Terlihat sekali dia menatapku sesaat lebih lama dari semestinya. Mungkin aku yang ke-geeran, tapi sepertinya dia cukup terpesona oleh penampilanku sekarang.
“Nah kalo pake baju gitu kan, kamu keliatan ganteng,” ucap Nyonya Elena tanpa terlihat malu-malu, seakan-akan itu hal yang biasa baginya. Aku sedikit kecewa, mungkin aku nya saja yang ke-geeran.
“Bud, yang lainnya cukup ga ukurannya buat kamu?” tanyanya sambil menyimpan smartphonenya di dalam tas.
“Cukup semuanya, bu,” jawabku.
“Ya bagus. Mbak, aku ambil semuanya yah,” sambil Nyonya Elena melangkah ke kasir.
“Nyonya, apa ga kebanyakan bajunya?” tanyaku sambil mengikuti langkahnya.
“Lah masa tiap pergi nyupirin aku, pake bajunya yang ini-ini aja,” katanya sambil tertawa. Aku hanya garuk-garuk kepala saja. Ya gimana Nyonya aja, kan Nyonya majikan aku, batinku.
Keluar dari toko, Nyonya Elena ngomong lagi
“Kita makan dulu ya Bud,” senyumnya menghiasi bibirnya.
“Lho Nyonya ga jadi ke rumah Mamanya?” tanyaku bingung.
“Itu mah hanya alasanku saja untuk pergi tanpa Bambang dan Sally. Aku ingin beliin kamu baju. Aku yakin mereka ga akan setuju dengan rencanaku,” jawabnya sambil berjalan lagi menuju sebuah cafe.
Alangkah baiknya Nyonya Elena, sudah cantik rupawan ternyata hatinya perhatian sekali padaku. Aku merasa sangat bahagia. Aku selalu ingin bersamanya terus.
Aku duduk di seberangnya Nyonya Elena di sebuah meja bundar di pojok cafe. Menurutku dia memilih tempat yang paling pojok karena tidak ingin menarik perhatian. Aku menyimpan kantong belanjaan. Aku biarkan dia yang memesan makanan untukku. Apapun pilihan dia, pasti akan kumakan.
Dia meletakkan topi dan kacamata hitamnya di kursi sebelahnya. Kedua tangannya dimeja. Payudaranya menekan meja bundar itu sehingga lebih terlihat membusung. Aku mencoba mengalihkan pandanganku dari dadanya. Baru kali ini begitu dekat dengannya. Aroma tubuhnya begitu harum. Wajah cantiknya terlihat lebih jelas. Sekali lagi dia menatapku lebih lama dari semestinya. Atau aku yang ke-geeran lagi.
“Gimana, sudah ingat tentang dirimu?” tanyanya sambil menatap mataku.
“Belum Nyonya,” aku sekali lagi berterima kasih atas perhatiannya.
“Lukamu gimana?” tanyanya lagi sambil tangannya bergerak ke belakang kepalanya, simbolik karena luka ku satu lagi di bagian belakang kepala.
“Uda sembuh Nyonya, hanya sakit kepalaku masih suka muncul tiba-tiba,” jelasku.
Nyonya Elena mengangguk-angguk. Tidak lama kemudian, pesanan Nyonya Elena muncul. Percakapan kami terhenti. Aku makan sambil sekali-kali mencuri pandang pada wajah Nyonya Elena dan dadanya tentu saja. Aku bahagia meskipun bukan kencan tapi aku menganggap acara makan kami berdua ini adalah kencan pertamaku dengan wanita cantik bernama Elena.
Malam itu, aku sulit tidur. Sakit kepalaku kambuh lagi. Aku mencoba membayangkan wajah cantik Nyonya Elena tetap tidak berhasil. Tiba-tiba aku merasa haus. Aku berjalan mengitari kolam renang hendak menuju dapur. Kamar Bi Surti yang terdekat denganku. Lampu kamarnya sudah mati. Kamar berikutnya adalah kamar salah satu musuhku. Kamar Bambang. Lampunya masih menyala. Aku berjalan dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Aku tidak mau dia tiba-tiba keluar dan menanyaiku hal-hal aneh. Aku tidak mau ribut dengannya. Mengingat badannya yang kekar berotot. Tapi aku yakin bahwa aku bisa mengalahkannya apabila harus terpaksa adu jotos dengannya. Entah kenapa aku bisa begitu yakin.
Dengan langkah sangat pelan, aku melewati kamar Bambang. Salah satu tirainya ada yang tidak tertutup dengan penuh. Ada celah yang terlihat. Selintas aku melihat ada gerakan. Gerakan dua orang. Aku pelan-pelan bersandar pada tembok di sebelah jendela yang tirainya terbuka kecil. Aku mengintip. Deg. Aku melihat Bambang dan Sally sedang telanjang bulat. Bambang duduk di pinggir ranjang, kedua kakinya membuka. Sally bersimpuh di depan selangkangannya. Sedang mengulum penis Bambang.
Dalam posisi berlutut, pinggul Sally terlihat membusung ke belakang. Kedua payudaranya yang besar tergencet di antara kedua paha Bambang. Bambang sedang menengadah ke atas, menikmati kuluman dan isapan mulut Sally. Sally terlihat sangat bernafsu dan liar. Bibir dan lidahnya, menyapu setiap sisi penis Bambang, seakan-akan itu adalah makanan kesukaannya. Melihat mereka sedang bermesraan, meskipun mereka tidak menyukaiku, membuat penisku pun ikut menegang. Aku membetulkan letak posisi penisku sambil tetap mengintip kedua insan yang sedang bermain seks itu.
Kini Sally sedang menjilati buah zakar Bambang, tangan kanannya mengocok-ngocok penis Bambang. Buah dada Sally yang besar terlihat menggantung begitu menggiurkan. Penisku berdiri tambah tegak. Sialan. Namun anehnya aku tidak beranjak dari situ, ingin terus mengintip. Mungkin aku tidak akan ketahuan oleh mereka asal aku tidak bersuara keras, tapi sayup-sayup kudengar ada musik mengalun dari dalam kamar. Mungkin mereka sengaja memutar musik untuk mengurangi suara persetubuhan mereka.
Kalo begitu, mungkin saja jika aku bersuara pun tidak akan didengar oleh mereka. Tanpa sadar aku menggosok-gosok selangkanganku. Terasa nikmat juga sambil menikmati tubuh telanjang Sally. Ketika aku sedang menggosok penisku dari balik celana, terdengar suara pelan, sangat pelan.
“Kamu lagi ngapain, Bud?” Nyonya Elena tiba-tiba ada di sebelahku, suaranya hampir berbisik. (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 5)
POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG


0 comments: