Bercinta Dengan Bodyguard Part 3
Refleksku kurang cepat karena aku yang terdorong ke tembok oleh Bambang. Kepalaku yang terluka mengenai tembok sehingga membuat aku pusing seketika. Pisau Bambang tertempel di leherku, dia menatapku dengan tajam.
Sally yang lagi duduk di kursi di depan meja dapur, menatapku dengan tajam. Setelah dia menghembuskan asap rokoknya
“Kamu mata-mata kan? Jawab yang jujur atau Bambang akan menghabisi kamu!” ancamnya. Aku bingung kenapa aku tiba-tiba ditanya seperti begitu. Dinginnya pisau terasa di leherku. Aku melihat Nyonya Elena lagi menatap meja makan yang terbuat dari kaca. Terlihat Nyonya Elena memakai celana hot pants warna hijau muda, memperlihatkan pahanya yang putih. Nyonya Elena sama seperti Sally sedang mengisap sebatang rokok. Dia seperti tidak mempedulikan kejadian yang sedang terjadi.
“Ayo jawab!” Sally menyilangkan kakinya, rok mininya yang pendek terlihat semakin pendek memperlihatkan pahanya yang mulus, ketika dia menyilangkan kakinya, terlihat selintas celana dalam putihnya. Kepalaku semakin pusing melihat kedua wanita super menarik di depanku. Pisau Bambang yang menekan leherku mengingatkan aku akan situasi aku yang sedang diinvestigasi.
“Maksud Nyonya?” tanyaku menatap bergantian Sally dan Nyonya Elena.
“Nyonya! Nyonya! Sudah aku bilang aku belum kawin!” Sally mendengus.
“Aku tidak ngerti maksud Nona?” tanyaku mengkoreksi.
“kamu mata-mata kan yang ingin menyelidiki Lena?” tanya Sally lagi. Lena? Oh maksudnya mungkin Nyonya Elena.
Aku menatap Nyonya Elena yang tetap menunduk menatap meja makan sambil menghembuskan asap rokoknya.
“Tidak, aku bukan mata-mata. Aku tidak ingat siapa aku sebenarnya,” aku mencoba menjawab dengan tenang meskipun kepalaku pusing dan nyeri.
“Jangan bohong! Tebas aja lehernya, Bang!” Sally berdiri, rok mininya tetap terangkat tidak turun ke posisi bawah. Pemandangan yang menggiurkan apabila aku tidak berada di bawah ancaman pisau.
“Aku tidak bohong!” Teriakku sambil menatap Sally tajam dan berharap Nyonya Elena membantu aku.
“Kalo bukan mata-mata, lalu kamu siapa?” Sally mendekatiku dan menghembuskan asap rokoknya ke arah wajahku. Sialan nih cewek, pikirku.
“Aku tidak ingat siapa aku, Nona!” aku tidak mau kalah oleh mereka. Aku menatap Sally tajam.
“Ah siapa yang tau kalo kamu amnesia beneran atau bukan?” Sally memberi kode pada Bambang. Bambang lalu mengubah posisi pisaunya yang tidak tajam ke yang tajam menekan leherku.
“Aku tidak bohong, liat aku punya dua luka di kepala, pasti itu yang menyebabkan aku amnesia. Nyonya Elena, tolong percaya padaku,” aku tahu kunci utamanya ada di Nyonya Elena.
“Atau kamu fans yang pengen deket dengan Lena?” Sally menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, membuat kedua payudaranya terlihat semakin membusung. Kenapa dia harus seperti itu disaat aku sedang berada dalam ancaman pisau?
“Aku malah tidak tahu kalo Nyonya Elena seorang artis sebelumnya,” aku hampir berteriak mengucapkan itu, sekali lagi berharap Nyonya Elena membantuku.
Keinginanku terkabulkan.
“Lepaskan, Bang! Aku percaya padanya,” ucap Nyonya Elena sambil menatapku. Bambang terlihat enggan menurunkan pisaunya dari leherku. Meskipun begitu dia tetap melakukannya.
“Sal, Bang, tolong tinggalkan aku berdua dengan Budi,” Nyonya Elena mematikan rokoknya di asbak.
Sally dan Bambang terlihat ragu-ragu.
“ga akan apa-apa, aku percaya pada Budi,” Nyonya Elena tersenyum meyakinkan mereka.
Setelah mereka berdua meninggalkan kami.
“Duduk, Bud!” Nyonya Elena menyuruhku duduk di kursi di meja sebelah kanan. Aku meraba-raba leherku, agak sedikit perih akibat kegesek pisau tadi.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Nyonya Elena sambil tersenyum. Cantik sekali. Perih di leherku terasa sedikit berkurang.
“Ga apa-apa, Nyonya,” jawabku sambil tersenyum juga.
“Maaf soal tadi. Sally yang bersikeras ingin melakukan itu. Dia tidak percaya padamu,” jelas Nyonya Elena.
“Tapi Nyonya percaya ama saya kan?” aku bertanya balik, menatap matanya mencari kejujuran.
“Aku percaya padamu,” tiba-tiba Nyonya Elena memegang tangan kiriku yang berada di dekatnya. Aku merasa seperti tersetrum ketika tanganku bersentuhan dengan tangannya yang halus. Otomatis aku menatap ke arah tanganku dan pandanganku tembus ke bawah meja kaca itu, melihat paha mulusnya. Begitu sempurna wanita ini menurutku. Ingin aku membalas memegang tangannya, meremasnya, mengelusnya. Tapi untung tangan Nyonya Elena sudah tidak memegang tanganku lagi
“Kamu sudah ingat tentang kamu?” tanyanya tiba-tiba.
“Belum, nyonya. Kepala saya masih terasa pusing akibat luka ini,” jawabku.
“Ya pelan-pelan aja. Nanti pasti ingatan kamu akan kembali lagi,” Nyonya Elena tersenyum lagi. Gigi putihnya pun ternyata sangat menggoda.
“Ngomong-ngomong, kamu bisa nyetir?” tanya Nyonya Elana lagi.
“Aku ga tahu, Nyonya. Memang kenapa?” tanyaku balik.
“Coba besok kamu tes dengan Pak Dadan besok. Siapa tau kamu memang amnesia, tapi kamu ternyata bisa nyetir mobil,” ujarnya kemudian.
“Tapi kan uda ada Pak Dadan sebagai supir Nyonya,” aku agak bingung dengan maksud Nyonya Elena.
“Pak Dadan uda tua, dia bilang mau istirahat aja, ga mau kerja lagi,” sambung Nyonya Elena. “Kalo kamu bisa nyetir, nanti kamu yang jadi supir aku.”
Aku mengangguk-anggukan kepalaku. Dalam hatiku, aku berharap aku bisa nyetir sehingga aku bisa lebih sering bersama Nyonya Elena bukan saja di rumah tapi juga diluar ketika aku menyupir mobil untuknya. Aku tersenyum senang tanpa aku sadari.
“Ya uda, kamu terusin kerjaan kamu lagi,” lalu Nyonya Elena berdiri, masuk ke dalam kamarnya. Aku memperhatikan sosoknya sampai dia menghilang masuk kamar. Aroma tubuhnya masih tercium oleh hidungku.
Aku pun bermaksud pergi keluar lewat pintu belakang ketika aku seperti mendengar orang yang sedang berciuman dekat kamar mandi di belakang. Aku melihat Bambang sedang berciuman mesra dengan Sally. Kaki kiri Sally menekuk ke atas. Paha mulusnya menekan pinggang kanan Bambang. Mereka segera menghentikan ciuman mereka ketika mereka mendengar langkahku mendekat. Jelas mereka pasti lebih membenciku lagi setelah ketauan olehku apa yang telah mereka lakukan. Aku yakin mereka sedang menatapku tajam. Aku pergi keluar dengan menundukkan kepala. Seakan-akan aku tidak mengetahui apa yang baru mereka lakukan. Sial, belum apa-apa, aku sudah punya dua musuh yang mungkin sangat ingin mengenyahkan aku dari rumah ini. Aku harus hati-hati. (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 4)
POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG


0 comments: