Bercinta Dengan Bodyguard Part 2










Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku amnesia.  Penyebabnya aku tidak tahu, hanya ketika aku siuman, aku terbaring di sofa dikelilingi oleh banyak tamu Nyonya Elena, mungkin sanak saudara dan kerabat Nyonya Elena.  Aku memegang dahi bagian kanan yang diperban.  Lalu kepala belakangku seperti ada tonjolan yang lumayan terasa masih nyut-nyutan.

“Anda siapa?” Waktu itu Nyonya Elena yang mengenakan baju terusan hitam menanyaiku.  Lebih tepatnya menyelidiki aku.

Aku siapa.  Siapa namaku.  Kenapa aku tidak ingat?  Wajah nyeri ku bercampur dengan wajah kebingunganku.  Sekali lagi Nyonya Elena menanyaiku dengan suara agak tegas dan pandangan mata yang tajam.  Aku hanya termangu menatap wajah cantiknya.  Terasa akrab wajahnya di pandangan aku.  Melihat semua orang menanti jawaban aku.  Sedangkan aku tidak tahu siapa aku sebenarnya.

“Aku tidak tahu, Nyonya,” jawabku.  “Aku tidak ingat apapun.” Lanjutku kemudian.

Terdengar suara orang heboh disekelilingku.  Mereka saling berkomentar satu sama lain.

“Anda tidak bohong?” lanjut Nyonya Elena tetap mencurigai aku. “Boleh liat KTP anda?” tanyanya kemudian.

Otomatis aku merogoh saku celanaku.  Tidak ada apapun.  Tidak ada apapun di semua kantong celanaku.  Aku menggelengkan kepalaku.

“Bambang, coba geledah sakunya,” perintah Nyonya Elena pada bodyguardnya.  Bambang dengan tampangnya yang sangar segera meraba-raba kantong celanaku.  Kepalaku tiba-tiba berdenyut sakit.

“Tidak ada apa-apa di sakunya, Nyonya,” ujar Bambang kemudian.

Tiba-tiba ada yang menyeletuk untuk menyerahkan aku ke polisi disambut dengan anggukkan banyak orang.

“Jangan sekarang,” kata Nyonya Elena.  “Sekarang kita lagi berduka, aku tidak mau repot berurusan dengan polisi.  Lagi pula kelihatannya orang ini lagi terluka.  Bambang, tolong jaga dia ya,” perintah Nyonya Elena lagi pada Bambang.  Aku tahu maksudnya menjaga.  Mengawasi aku lebih tepatnya agar aku tidak berbuat yang macam-macam.

Semua orang mungkin iba melihat penampilanku yang memang acak-acakan dengan luka di dahiku ditambah tampangku yang seperti orang linglung.  Akhirnya kerumunan bubar meninggalkanku di sofa ditemani Bambang, sang Bodyguard bertubuh kekar.

Untung bagiku, Nyonya Elena percaya padaku.  Mungkin dia kasihan melihatku seperti anak hilang.  Dia tidak menyerahkan aku kepada polisi.  Bahkan aku diberinya kamar kecil, bekas tukang kebunnya. Letaknya jauh di pekarangan belakang.  Nyonya Elena bilang aku boleh bantu bersih-bersih rumah dan pekarangan karena tukang kebunnya sudah pensiun seminggu yang lalu.

Aku cukup beruntung diperbolehkan tinggal disini.  Ada beberapa pakaian untukku yang masih layak kupakai, lagipula bisa dibilang aku pembantu disini, aku tidak perlu pakaian yang bagus.  Tapi yang membuat aku merasa sangat beruntung bahwa aku bisa terus melihat Nyonya Elena.  Kecantikannya benar-benar sudah menguasai hatiku.  Ya kecantikannya entah kenapa membuat aku seperti terhipnotis.  Sedangkan bagian tubuh lainnya bukannya tidak menarik.  Sangat menggiurkan malahan.  Tapi buatku dengan melihat kecantikannya pun sudah cukup bagiku.

Selain aku yang sebagai pembantu, Nyonya Elena juga ada pembantu yang lain, Bi Surti.  Dia yang memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.  Dia sangat berterima kasih dengan kehadiranku, karena untuk kerjaan yang berat bisa diserahkan padaku.

Kejadian menarik pertama buatku adalah ketika aku sedang memotong rumput yang cukup luas di pekarangan belakang.  Nyonya Elena keluar dari rumah menuju kolam renang yang cukup besar, mengenakan kimono berwarna putih.  Yang membuat darahku berhenti berdesir ketika dia membuka kimononya.  Nyonya Elena memakai swimsuit berwarna biru tua.  Begitu ketat memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya.  Tonjolan di dadanya begitu indah ditambah bokong padat serta kulit putihnya.  Pahanya yang berisi terlihat sampai pangkal selangkangan.  Memang aku amnesia tapi ternyata fungsi organ tubuhku berfungsi dengan normal.  Penisku langsung ereksi menikmati pemandangan pagi yang indah ini.

Nyonya Elena berenang bolak balik beberapa kali sebelum dia rebahan di salah satu kursi kayu panjang yang sandarannya setengah tegak di pinggir kolam renang.  Mengambil sebuah majalah yang tersimpan di meja di sampingnya.  Dengan kaki kanan yang tertekuk ke atas, semakin memperlihatkan paha putihnya yang mulus.  Dia cuek saja tanpa melihat sekeliling membaca majalah. Seakan-akan tidak peduli ada sepasang mata yang langsung tidak konsens memotong rumput.  Penisku memang tidak ereksi maksimal tapi cukup membuat darahku yang sempat terhenti sekarang berdesir cepat.  Entah sudah berapa kali aku memalingkan wajah dari pekerjaanku memotong rumput ke arah tubuh indah yang sedang rebahan di pinggir kolam.  Akhirnya Nyonya Elena memakai kembali kimononya dan sempat menoleh ke arahku, dimana aku cepat-cepat memalingkan wajah, pura-pura konsentrasi memotong rumput, sebelum Nyonya Elena kembali masuk ke dalam rumah.  Kejadian ini membuat aku berkeinginan untuk tetap tinggal di rumah ini.

Selain Bi Surti ada juga Pak Dadan, uda cukup tua kira-kira 50.  Dia supirnya Nyonya Elena.  Ya namanya juga pembantu di rumah ini, aku jadi ikut bantuin Pak Dadan nyuci mobil BMW nya Nyonya Elena.  Akhirnya disitu aku tahu bahwa suami Nyonya Elena baru saja meninggal mendadak.  Nyonya Elena tidak punya anak.  Kasian Nyonya Elena kata Pak Dadan.  Mereka baru menikah kira-kira satu tahun yang lalu. Eh sekarang uda ditinggal suaminya.  Memang suaminya Nyonya Elena, Pak Santoso orang kaya sekali.  Umurnya memang sudah tidak muda, umur 45, hampir beda 15 tahun dengan Nyonya Elena.  Aku manggut-manggut sambil berpikir, kok mau-maunya orang secantik Nyonya Elena menikah dengan pria yang lebih tua jauh umurnya.  Aku juga merasa sedikit iri juga.  Aku kembali teringat pemandangan indah yang baru saja tadi kulihat.  Penisku kembali ereksi.  Sebelum aku sempat ereksi lebih jauh, tiba-tiba Bi Surti teria

“Budi! Bukain pintu gerbang ada tamu untuk Nyonya Elena!” iya, karena aku tidak tahu siapa namaku.  Untuk sementara Nyonya Elena menetapkan namaku Budi.  Entah kenapa dia memilih nama itu.  Aku buka gerbang, sebenarnya gerbangnya pake mesin otomatis yang terpasang di dekat garasi.  Sebuah mobil pajero hitam masuk, aku tidak bisa melihat siapa pengemudinya karena kaca mobilnya yang gelap.  Ketika mesin berhenti dan pintu depan kanan terbuka.  Seorang wanita, dengan wajah sangat menarik keluar.  Wajahnya cantik sebenarnya lebih ke sensual dan kembali darahku berhenti berdesir ketika melihat pakaiannya.  Kaos biru ketat memperlihatkan tonjolan payudaranya, hitungan matematika ku sangat cepat, jelas ukurannya lebih besar dari punya Nyonya Elena.  Rok mininya cukup pendek memperlihatkan pahanya, kalah putih sih tapi jelas lebih berisi dari punya Nyonya Elena.  Dia membuka kacamatanya.  Menatapku tajam.  Aku segera mengalihkan pandanganku dari tubuh menggiurkannya.

“Kamu siapa?” tanyanya dengan pandangan menyelidik.

“Saya Budi, Nyonya,” jawabku agak gelagapan, takut dia marah karena aku memperhatikan tubuhnya tadi.

“Nyonya...nyonya aku belum kawin kali,” jawabnya agak ketus.

Lalu dia masuk ke arah pintu rumah yang berpintu kembar.  Nyonya Elena yang muncul.  Aku bisa mendengar sedikit percakapan mereka.

“Aduh say, sori banget aku baru sempet ke sini.  Aku kemaren ada di luar kota,” ujar wanita itu sambil memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan Nyonya Elena. “Aku turut berduka cita ya.”

“Ga apa-apa, Sally,” jawab Nyonya Elena sambil mengangguk kemudian mereka masuk.  Aku kembali ke garasi memencet tombol untuk menutup gerbang.  Kemudian aku melanjutkan pekerjaanku membantu Pak Dadan cuci mobil.

Baru saja aku selesai mencuci mobil, Bi Surti memanggilku lagi

“Budi, kamu dipanggil Nyonya,” katanya.

“Iya,  Bi,” aku mengelap tangan basahku ke celana pendek jeansku, baju bekas tukang kebun yang dulu.

Aku masuk ke dalam rumah. Aku lihat Nyonya Elena, wanita sensual tadi dan Bambang lagi duduk di meja makan.

“Sini, Bud,” panggil Nyonya Elena padaku.

Begitu aku sudah dekat meja makan, Bambang tiba-tiba mendorongku ke tembok dan mengeluarkan pisau yang cukup besar dari pinggangnya dan menempelkannya pada leherku. (Bersambung ke Bercinta Dengan Bodyguard Part 3)


POKER ONLINE UANG ASLI, DOMINOQQ, BANDARQ INDONESIA, CAPSA SUSUN ONLINE, BANDAR SAKONG
Next
Previous